27 Des 2011

Lupakan Tuhan Sejenak

REPOST: Mengenang Tsunami Aceh, 26 Desember 2004...

Bencana sudah berangsur surut.
Kita boleh memaki Tuhan, atau memohon ampunan.
Kita dipersilakan menangis tersedu di depan televisi atau meneteskan airmata di atas koran. Kita bahkan dihimbau untuk memberi bantuan semampunya pada mereka yang menjadi korban bencana.
Tapi ingat, ada satu hal yang mungkin juga dipikirkan oleh segelintir orang.
Apa yang akan dilakukan bangsa ini enam bulan ke depan? Satu tahun ke depan? Lima tahun ke depan?



MEDIA massa sudah mengabarkan betapa dunia turut berduka atas bencana ini. Thailand sudah sepakat untuk menyusun sistem peringatan dini atas bencana tsunami ENAM BULAN ke depan. Apa agenda pemerintah kita? Apakah kita akan (lagi-lagi) lupa, dengan ratusan ribu nyawa yang menggelepar di pesisir Aceh? Seperti kita juga pernah lupa pada apa yang telah terjadi di Maumere? Di Biak? Di Nabire?

Bencana ini bukan yang pertama. Mungkin kali ini dampaknya yang paling besar dalam catatan sejarah. Sekejam itukah Tuhan di mata kita? Adakah nama MAHA PEMARAH dalam deretan nama-nama Tuhan? Mungkin Tuhan memang sudah mulai bosan (seperti syair lagu Ebiet G. Ade), tapi kalau terus-terusan mempermasalahkan Tuhan, enam bulan atau enam tahun lagi mungkin tsunami yang lebih dahsyat keburu datang. Dan apa yang sudah kita lakukan?

Sementara manusia di bumi yang dianggap saleh dan diberi kewenangan oleh manusia lain untuk menjadi saleh, malah membuat keputusan yang absurd. Entah demi apa, atau karena kekurangtahuan, ratusan ribu mayat yang bisa mendatangkan bencana baru itu tetap harus dikuburkan. Apakah Tuhan yang sudah sedemikian sibuknya itu masih akan mempermasalahkan, jika umatnya harus dibakar, karena kalau tidak kuman-kuman dan penyakit mematikan akan menyebar, membunuhi sisa-sisa umatnya yang selamat dari bencana tsunami? Alih-alih selamat dari tsunami, mungkin mereka akan berhadapan dengan bencana epidemik yang lain. Sungguh penderitaan tiada ujung.

AGENDA yang harus dilakukan ke depan, agar para korban ini tidak merasa terus-terusan didera bencana, menjadi sangat krusial. Tidak saja untuk menenangkan kekhawatiran mereka tentang masa depan, tapi juga menenangkan semua pihak yang setiap saat bisa saja menjadi korban bencana. Tapi sifat pelupa bangsa ini sungguh memalukan. Bak menunggu Godot, agenda yang berwawasan sistem di masa depan sungguh sulit diprediksi kapan datangnya.

Kita semua sudah diberitahu, bahwa negeri ini adalah negeri bencana. Satu-satunya negara yang sarat dengan ancaman dari alam, tapi (mungkin) satu-satunya negara yang tidak punya sikap antisipatif. Semuanya reaktif. Spontan. Dan kalau sudah terjadi, mulailah Tuhan kembali dipersalahkan. Lihat saja catatan kecelakaan di sektor transportasi pada tahun 2004 yang lalu. Berapa nyawa melayang akibat kesalahan yang sifatnya mendasar? Ribuan, bahkan mungkin sudah mencapai ratusan ribu jika kita mau terus menghitung mundur. Sungguh sebuah pemandangan yang tidak sedap.

Lalu apa yang sudah kita lakukan pada sistem? Nyaris tidak ada. Sistem sudah hampir kehilangan makna, kalau tidak mau dibilang tereliminasi oleh kepentingan segelintir orang. Aturan tidak penting lagi, karena kepentingan berada di atas segalanya. Kaum elit selalu mendapat perlakuan khusus, dan karenanya menjadi pembenaran atas pelanggaran-pelanggaran. Mana yang lebih penting sulit untuk dirumuskan. Asal Bapak senang, asal perut kenyang.

DALAM situasi kalut dan kacau, masih saja terdengar suara-suara sumbang tentang ketidakadilan. Cerita tentang sukarelawan yang kalah antri dengan pejabat-pejabat 'pelancong bencana', tentang tenda-tenda mewah di sekeliling mayat dan reruntuk bangunan, tentang "oknum" yang menjual bantuan, tentang birokrat penjilat yang lebih suka mengekor pantat atasannya daripada menolong nyawa rakyatnya.

Memilukan memang. Teater absurd ala Godot yang hanya dipentaskan di panggung-panggung, di sini adalah sebuah keniscayaan. Lelucon Srimulat sampai kehilangan bahan, karena semua hal satir dan paradoks sudah kita pentaskan bersama-sama di alam nyata. Mungkin benar, bahwa Tuhan ternyata memiliki sense of humor yang berlebihan. Segala kekalutan dan kekacauan yang terjadi di negeri ini, tampaknya bagi Tuhan adalah lelucon yang menyenangkan.
Lihat apa yang dilakukan para pejabat?!
Menggelikan.
Lihat apa yang dilakukan para pemimpin agama?!
Tidak kalah absurd.
Lihat apa yang terjadi pada para relawan?!
Terseok-seok memeras keringat dan airmata.
Sementara siapa yang harusnya bertanggung jawab?

Sibuk menyenangkan atasan yang datang berkunjung untuk ikut-ikutan menunjukkan belasungkawa, lalu pulang dan tetap menunggangi volvo ber-AC di jalan-jalan raya. Sibuk membuka-buka koran mencari investasi paling menguntungkan di masa depan. Sibuk mendirikan perusahaan-perusahaan kontraktor bangunan agar kelak kebagian proyek rekonstruksi Aceh yang nilainya trilyunan.
Kapan kita akan bicara mengenai sistem yang lebih nyata?
Bicara mengenai antisipasi, bukan sekedar reaksi.
Menunggu bencana lain datang?
Menunggu Tuhan bosan?

*untuk para relawan yang berkeringat di Aceh dan sekitarnya*
Posting Komentar