15 Des 2004

Jangan Menangis, Indonesia!


Sore yang tidak begitu cerah di Kecamatan Sumur, Pandeglang. Di ujung Barat Pulau Jawa itu, aku dan beberapa teman baru saja menginjak rumah tempat kami menginap. Beberapa saat di kamar, teman yang lain datang setelah melakukan survey keliling desa.

Hujan mulai menitik, semakin lama semakin deras disertai tiupan angin. Aku berdiam di dalam kamar, sambil membereskan perbekalan selepas jalan-jalan. Seorang teman menghampiri, dan menyampaikan berita buruk itu.

Hari itu Hari Minggu siang, artinya kami terlambat menerima berita setengah hari lebih. Kang Harry meninggal. Kang Harry Roesli, seorang teman, sahabat, guru, panutan, dan bapak, telah pergi. Untuk selama-lamanya.

Beberapa menit lamanya aku tercenung. Kenapa secepat ini? Kami bahkan belum selesai menggarap beberapa gagasan Kang Harry yang selalu tampak bersemangat di saat terakhir kami berjumpa. Kami bahkan sedang dalam puncak-puncaknya menggodok semua gagasan-gagasan itu.

Apa mau dikata. Dia sudah pergi meninggalkan banyak sekali karya dan gagasan yang belum selesai digarap. Dia juga meninggalkan banyak sekali orang yang menyayanginya, dan tergantung pada keberadaannya.

Tak ada lagi diskusi-diskusi menghabiskan malam yang segar. Tak ada lagi kelakar dari suara bertenaga dan mantap itu. Aku masih tenggelam dalam ketidakpercayaan.

* * *

Hari berikutnya kami di tempat asing itu menyisakan banyak kegundahan. Kami sudah menerima berita bahwa jasad Kang Harry akan dimakamkan di Ciomas, Bogor. Kami tidak akan bisa menyaksikan Kang Harry untuk terakhir kalinya. Dalam hati kami hanya bisa mengucapkan doa, semoga Allah, SWT berkenan memberinya tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

Hari Selasa pagi, saatnya kami harus meninggalkan Sumur. Perjalanan hampir 14 jam kami tempuh melalui jalan darat. Sungguh bukan suatu perjalanan yang menyenangkan. Angkutan yang berulah, dengan semena-mena menurunkan kami di Kecamatan Labuan, padahal janjinya angkutan itu akan berangkat langsung menuju Serang.

Bersungut-sungut kami harus meneruskan perjalanan menuju Serang dengan menaiki bus antar kota jurusan Jakarta-Labuan. Sementara di perjalanan, handphone salah seorang teman sudah bisa menangkap sinyal. Puluhan berita dalam bentuk layanan pesan pendek segera membanjiri handphone-nya, sebagian besar memberi kabar mengenai Kang Harry, dan menanyakan keberadaan kami.

Dari berita itu pula kami tahu bahwa malam nanti, Selasa Malam tanggal 14 Desember 2004, mulai diadakan tahlilan di kediaman Kang Harry almarhum di Bandung. Kami berencana untuk hadir, karenanya penantian panjang menuju Bandung menjadi terasa semakin panjang saja. Di perjalanan, gambaran sosok Kang Harry masih melekat di ingatanku yang beberapa hari sebelum ia masuk rumah sakit di Bandung, kami masih sempat berjumpa di kediamannya.

Di mataku, Kang Harry adalah sosok yang luar biasa meski ia hanyalah seorang manusia biasa, yang sangat manusiawi. Ia bisa sebal, bisa marah, begitu pula bisa gembira, tertawa terbahak-bahak. Tak perlu ahli humas untuk mengatur seperti apa penampilan dia di TV, atau di depan wartawan lainnya. Harry Roesli yang ada di TV, di Koran, adalah Harry Roesli yang biasa kami temui di Jl. Supratman, Bandung. Ia selalu ingin tampil sewajarnya, sebagaimana orang lain melihatnya sebagai seorang Harry Roesli.

Pada suatu pertemuan beberapa hari sebelum sakitnya, ia asyik berbincang dengan kami tentang musik. Bagaimana ia diundang menjadi nara sumber tentang musik rock klasik di sebuah radio swasta di Bandung. Baru kali ini, aku dan beberapa teman yang hadir saat itu, berbincang tentang musik dengannya. Baru kali itu pula aku bisa melihat betul, bagaimana seorang Harry Roesli yang bergelar Professor Doktor itu beraksi.

Biasanya kami lebih banyak berbincang tentang politik, sosial, atau budaya. Bahkan dalam pertemuan awalku dengan Kang Harry, waktu itu bersama beberapa teman menyambangi Supratman 57, berkumpul bersama beberapa orang seniman dan tokoh-tokoh Bandung, menjelang kejatuhan Orde Baru. Februari 1998, saat itulah pertama kali aku bertemu dengan Kang Harry. Sebelum itu, aku cuma bisa melihatnya di koran, atau di televisi. Padahal aku sudah menetap di Bandung sejak tahun 1991.

Sebagai orang ‘besar’, Kang Harry tidak seperti yang ada di benakku ketika sebelum berjumpa langsung. Ia adalah pribadi yang sangat akomodatif. Ia tak segan mendengarkan kami-kami yang ‘kroco’. Bahkan tak jarang ia mengundang kami untuk ikut dalam beberapa diskusi penting di saat-saat menjelang dan setelah kejatuhan Orde Baru. Detik-detik pada bulan Mei 1998 adalah saat yang paling berkesan. Hampir setiap malam aku sempatkan hadir di Supratman memantau berita terakhir di Jakarta.

Lalu meletuslah kerusuhan di Semanggi. Pada saat meninggalnya beberapa mahasiswa di Trisakti, Kang Harry bersama teman-teman DKSB membuat kompilasi video rekaman kerusuhan Semanggi. Diisi oleh vokal Kang Harry dalam Lagu Jangan Menangis Indonesia, kompilasi itu tidak lagi sekedar kompilasi belaka. Ada roh di sana, roh kesedihan, kemarahan, kegetiran, sekaligus semangat untuk terus bertahan. Nuansa magis lagu itu sulit dilukiskan dengan kata-kata.

* * *

Pukul tujuh tiga puluh malam, rombonganku sudah memasuki Kota Bandung. Setelah mendapatkan taksi, kami meluncur langsung menuju rumah. Setelah meletakkan semua perbekalan, kamipun langsung menuju Supratman 57. Sepanjang perjalanan kami sempatkan bernostalgia tentang pertemuan-pertemuan kami dengan Kang Harry.

Menurutku, Kang Harry tidak banyak bicara, apalagi bicara serius. Dia lebih senang bercanda. Bahkan setiap Hari Raya Idul Fitri, ketika kami datang menjumpainya, dia tetap santai. Masih terasa hangat jabat tangannya yang dengan sengaja menggelitik telapak kami ketika berjabat tangan di hari lebaran yang baru lalu.

Entah apa yang serius di benaknya, tapi aku yakin pasti ada. Banyak hal yang menurutku membuat Kang Harry frustasi, terutama yang menyangkut kondisi negeri ini. Akupun terkadang merasakan frustasi yang sama, terutama kalau terlalu banyak membaca koran atau nonton TV. Terlalu banyak kebodohan yang tampil telanjang. Seolah banyak hal yang sangat sederhana tapi selalu menjadi rumit di negeri ini.

Tapi Kang Harry selalu bisa tampak bersemangat, gembira, dan penuh canda. Mungkin itulah caranya dalam menghadapi hdup ini. Persis seperti apa yang selalu ditulisnya dalam kolom Asal-usul di harian terkemuka. Gurauan dan kelakar yang spontan, selalu terasa berbobot di tangan Kang Harry. Itulah khas Harry Roesli, memandang semua permasalahan dengan kaca mata bermain. Life is a big joke.

Keseriusan Kang Harry dalam bermain-main, memang tidak main-main. 23 album karya bermusiknya, belum lagi karya-karya dalam bentuk lain yang tidak terpublikasi. Selain itu masih banyak sekali gagasan yang terlontar, yang bahkan belum sempat ditindaklanjuti.

Memiliki Kang Harry sebagai seorang teman, sahabat, guru, panutan, dan bapak sekaligus adalah sebuah berkah. Kang Aat dalam suatu kesempatan menyatakan dalam karyanya untuk Kang Harry, bahwa ia belum mau kehilangan Harry Roesli, begitu pula rasanya negeri ini.

Tapi Tuhan berkehendak lain. Klise, tapi tak ada lagi yang bisa disalahkan selain Tuhan. Kenapa Tuhan memilih orang-orang baik di negeri ini untuk mendahului mereka yang korup? Kenapa Tuhan tidak mengambil nyawa mereka yang korup, yang bergelimang harta di atas penderitaan orang lain? Belum kering tanah pemakaman Munir, kini Harry Roesli menyusulnya. Masih banyak pekerjaan yang ditinggalkan Kang Harry yang harus kita selesaikan. Cita-citanya untuk mengangkat teman-teman pengamen jalanan dan anak-anak jalanan, melihat Indonesia yang bersih tanpa korupsi dan bergaya hidup sederhana, dan masih banyak lagi.

Sampailah kami serombongan di pelataran parkir Supratman 57. Banyak orang berkumpul di sana. Tampak wajah-wajah berduka. Terngiang di telingaku suara Kang Harry melantunkan Jangan Menangis Indonesia. Mungkin itulah pesan Kang Harry yang perlu diingat selalu. Kita tidak bisa terus-terusan dirundung duka. Jangan Menangis Indonesia, mari lanjutkan langkah demi Ibu Pertiwi.

Selamat jalan Kang Harry, semangatmu adalah alasan kami untuk terus berjuang.

Bandung, 15 Desember 2004.
Posting Komentar