12 Nov 2004

Polemik Buku Lendir, Masyarakat Berhak Memilih

Secara ‘tak sengaja’, saya membaca tulisan Bung Nurudin yang berjudul “Buku-Buku Lendir dan Kritik atas Kemunafikan Kita” (Jawa Pos, 7/11/2004). Secara naluriah insting saya berkata, bahwa buku-buku yang mengeksplorasi (dan mengeksploitasi) seks ini perlu ‘dicurigai’ motifnya.

Tapi ketika saya menelusuri asal-usul polemik ini di arsip Jawa Pos Dotcom, lalu saya temukan dua tulisan sebelum Bung Nurudin, yaitu tulisan Bung Ahmad Fatoni (Melirik Buku-buku Berbasis Lendir), dan tulisan Bung Nur Mursidi (Ada Apa dengan Buku Berbau ‘Lendir’?) yang merupakan tanggapan terhadap tulisan Bung Fatoni.

Banyak hal yang sudah disampaikan, termasuk soal tuduhan bahwa buku-buku berbau ‘lendir’ ini dibuat dengan motif kapitalis. Ada kepentingan di belakang penulisan buku-buku ini, yaitu trend pasar yang ditengarai menyukai tema esek-esek dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu tentang pandangan bahwa maraknya buku-buku ‘lendir’ ini hanyalah sebuah potret realitas yang tak perlu diingkari. Bahwa realitas yang diangkat menjadi buku ini adalah sebuah cerminan hitam putih kehidupan kita. Tak perlu dihindari, tak perlu ditakuti secara berlebihan.

BAHWA sebuah buku adalah potret dari realitas di sekeliling kita, benar adanya. Tetapi sebuah potret, adalah karya yang dihasilkan melalui proses yang tak gampang. Disana ada proses menyerap realitas, kemudian mengendapkannya dalam hati dan pikiran, lalu diekspresikanlah gagasan-gagasan baru atas realitas itu. Kemampuan seseorang dalam memotret realitas ini tentu berbeda satu dengan lainnya.

Meminjam terminologi fotografi, memotret terdiri dari dua paradigma besar. Kita bisa menangkap gambar-gambar (taking pictures), atau kita bisa menciptakan gambar (making pictures). Tinggal memilih cara apa dalam membuat karya, dan mempersiapkan kompetensi karena kedua paradigma di atas menuntut keterampilan yang kompleks.

Buku-buku ‘lendir’ yang dimaksud dalam polemik di atas entah masuk kategori mana. Apakah ia taking pictures, atau making pictures? Jika sekedar menangkap realitas (taking pictures), artinya sebisa mungkin mengurangi subyektivitas si penulis. Penulis sebaiknya mengambil jarak dari tema yang dibicarakannya. Kegiatan menangkap realitas adalah menceritakan kembali, tetapi jangan sampai hidangan pembuka lebih sedap daripada hidangan makan malamnya.

Sedangkan menciptakan suatu karya sebagai representasi realitas (making pictures), akan menimbulkan sebuah dekonstruksi terhadap realitas itu sendiri. Jelas subyektivitas si penulis dibutuhkan di sana. Bahkan intervensi si penulis bisa menyebabkan karya seperti ini mendapat apresiasi yang lebih besar. Pembaca tidak sekedar disodori realitas, tetapi juga mendapat pencerahan olehnya. Seperti yang telah disinggung Bung Ahmad Fatoni, buku yang baik adalah buku yang akan menggugah eksotisme dan kenikmatan yang luar biasa pada diri pembaca.

MEMAHAMI konteks di atas, maka maraknya buku-buku ‘lendir’ patut dimaknai secara berbeda karena beberapa alasan. Pertama, secanggih apakah realitas seks itu dituliskan? Apakah hanya sekedar menulis seperti layaknya Annie Arrow yang terkenal dengan novel pornonya di era 80-an?

Yang perlu diperhatikan di sini adalah kualitas karyanya. Sangat tipis perbedaan kreativitas dengan pornografi. Nilai-nilai seni dan pornografi campur aduk dalam tatanan masyarakat kita belakangan ini. Bagaimana masyarakat menikmati karya-karya seperti buku ‘lendir’? Sebagai hiburan melepas ketegangan, atau asah otak dan moral dalam menghadapi kenyataaan hidup?

Kedua, motif apa dibalik tulisan yang mengeksplorasi dan mengeksploitasi seks itu? Karena pada dasarnya setiap buku ditulis untuk dibaca. Menurut Dr. Daniel Dakidae, negeri ini menghasilkan 3.000 judul buku setiap tahunnya, sementara Malaysia bisa menghasilkan 8.000 judul. Kondisi budaya baca di Indonesia yang memprihatinkan, memerlukan usaha ekstra untuk mempopulerkan apa yang ditulis agar sampai ke tangan pembaca.

Tapi apakah tema-tema seksualitas sah jika digunakan untuk mendongkrak minat baca bangsa kita? Pendapat Bung Nurudin ini rasanya perlu dipertimbangkan lagi. Buku dengan tema seksualitas memang menarik, tapi hati-hati dengan dampaknya. Biaya sosial (social cost) yang harus dibayar terlalu mahal untuk menjadikan tematik seperti itu menjadi komoditi minat baca. Alih-alih membangun minat baca, kita sama saja dengan mengundang virus masuk ke dalam tubuh yang tidak dilengkapi dengan antibodi.

Ketiga, ada indikasi bahwa masyarakat cukup gerah dengan usaha membeberkan kenyataan seperti itu, tetapi yang perlu klarifikasi, masyarakat manakah itu? Masyarakat awam pada umumnya mengetahui realitas seperti ini. Hanya saja mereka tidak suka membicarakannya, kecuali di komunitas tertentu. Mereka menyadari tawaran yang menggiurkan dari kegiatan seksual itu, tetapi di sisi lain mereka takut dengan atribut yang menempel pada normanya. Maka sembunyi-sembunyi adalah jalan keluarnya, yang tak jarang justru menimbulkan lebih banyak masalah.

Tampaknya kaum elite-lah yang paling seksama mencermati masalah seperti ini. Anda yang membaca tulisan ini mungkin salah satunya, termasuk juga saya. Kekhawatiran-kekhawatiran yang melanda pemikiran elite terhadap dampak buruk eksploitasi seks yang berlebihan, mencengkeram obyektivitas, dan lalu berusaha membunuh embrio-embrio pemikiran ke arah sana.

Padahal masyarakat awam punya sistem kekebalannya sendiri. Sayang sistem kekebalan ini tidak semakin tebal, tetapi sebaliknya makin menipis karena kurang dilatih. Tugas menyeleksi berbagai infiltrasi terlalu sering diambil alih kaum elite, sementara masyarakat tinggal menelannya bulat-bulat.

SELAMA ini seksualitas menjadi sisi abu-abu kehidupan manusia, dibuat terlalu misterius dan mencekam, tetapi sekaligus menggairahkan. Semakin misterius, manusia akan semakin penasaran untuk mencobanya. Bak api dalam sekam, di permukaan alim ulama, sementara isinya bergolak menggelora.

Menjamurnya perilaku seksual yang menyimpang, rasanya perlu dikaji lebih dalam. Mengadopsi teori komunikasi mengenai cognitive dissonance, dengan gamblang dijelaskan betapa perilaku bisa berubah karena ada ‘sesuatu’ yang menggugatnya. Gugatan-gugatan berupa informasi baru, tawaran terhadap hal baru, yang terus menerus dilancarkan kepada suatu komunitas pada awalnya hanya akan menciptakan disharmoni.

Sikap-perilaku yang ‘memperkenalkan’ dan ‘memperbolehkan’ perilaku seksual terbuka dalam masyarakat kita menjadi inovasi baru. Pada awalnya memang muncul penolakan, karena nilai baru yang diperkenalkan ini tidak sesuai dengan nilai lama. Nilai lama cenderung untuk terus menerus menyembunyikan perilaku penyimpangan seksual, meski sudah terjadi sejak lama dalam masyarakat kita. Muncul ketidaknyamanan akibat adanya nilai baru yang mengemuka.

Lambat-laun perasaan tidak nyaman ini kemudian bisa berubah menjadi rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu akan mendorong manusia berbuat apa saja untuk memuaskan keinginantahuannya itu. Maka fenomena munculnya buku-buku lendir yang mengangkat sebagian realitas sosial kita ini merupakan ‘gangguan’ baru yang menggugat kemapanan ketertutupan perilaku seksual dalam masyarakat.

Menggugat kemunafikan masyarakat terhadap perilaku seksual mereka sendiri, itulah saya kira, yang coba dikemukakan oleh para penulis buku ’lendir’. Tapi tentu menggugat saja tidak cukup, karena masyarakat harus diberi alternatif, inovasi baru dalam berperilaku. Di sinilah titik krusial yang cukup berbahaya. Ketika gugatan-gugatan itu nanti sampai pada tujuannya, akankah kita membiarkan masyarakat kemudian gamang?

Sebenarnya masyarakat tidak perlu gamang jika mereka sudah mandiri dalam menentukan norma-normanya. Yang terjadi selama ini, dominasi elite selalu menentukan baik-buruk, dan ‘memaksa’ masyarakat awam menepi ke garis pinggir. Masyarakat bukan lagi ‘pemain’ utama dalam panggung kehidupannya, bahkan masyarakat semakin kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Alhasil, mereka tidak pernah mandiri.

Sementara kaum elite yang lain sibuk menjejali masyarakat dengan barang dagangan, yang juga mengandung nilai-nilai tertentu. Kaum elite kapitalis berkepentingan untuk menyuntikkan nilai-nilai yang berpihak pada kepentingan dagangnya.

Terjadilah perang besar antar elite. Masing-masing mewakili kepentingannya sendiri-sendiri. Ironisnya masyarakat hanya dijadikan penonton, yang harus membayar semua ‘drama pertempuran’ itu tanpa bisa memetik hasil apa-apa. Masyarakat ibarat rerumputan di antara Gajah-gajah yang sedang mengamuk.

FENOMENA buku-buku ‘lendir’ ini menjadi semacam penanda, bahwa sudah saatnya masyarakat disadarkan bahwa tak ada gunanya menutup-nutupi segala persoalan. Juga tak ada gunanya menunggu elite penjaga moral berkoar-koar tentang baik-buruk. Masyarakat punya tatanan nilai sendiri, yang harus terus ditumbuhkembangkan, jangan sampai ditumpulkan. Saatnya masyarakat dibangkitkan dan diberdayakan, untuk bisa mengenali dirinya sendiri dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

Seribu buku ‘lendir’ boleh diterbitkan setiap bulannya. Tapi dengan kepercayaan diri masyarakat, seleksi alam akan terjadi dengan sendirinya. Buku ‘lendir’ berkualitas rendah akan mengakhiri perjalannya di tempat sampah. Sementara yang berkualitas tinggi akan menjadi cermin yang sebenar-benarnya bagi masyarakat, mencerahkan, dan membebaskan mereka dari belenggu kebodohan.*
Posting Komentar