8 Sep 2004

Harry Roesli - Pendiam yang Banyak Bicara


facebook.com/group Harry Roesli
Februari 1998, adalah awal saya berkenalan dengan komunitas Supratman 57, kediaman Harry Roesli yang dipakai beberapa orang aktivis melakukan diskusi-diskusi politik seputar menjelang kejatuhan Suharto. Setelah mendapat informasi salah seorang dosen saya, Bambang Subarnas, maka bergegaslah saya bersama dua orang rekan mahasiswa lainnya mendatangi Supratman 57.

Komunitas itu dipenuhi oleh bermacam-macam orang. Dari mulai perupa, musikus, jurnalis, dan geng DKSB yang waktu itu serem-serem di mata saya. Malu-malu saya melangkah memasuki gerbang depan, lalu setelah bertanya-tanya seperlunya, masuklah saya di ruang tengah. Di sana sudah berkumpul orang-orang, dengan topik diskusi entah apa. Ada gagasan tentang gorong-gorong kota, dan macam-macam gagasan lain. Di sinilah untuk pertama kalinya saya bertemu muka dengan Kang Harry, live. Biasanya saya cuma baca beritanya di koran, atau menonton tayangannya di televisi.

Jadi, inilah Harry Roesli. Bagi saya, beliau ini tidak banyak bicara. Matanya menatap ke setiap orang yang berbicara, tapi jarang berkomentar. Kecuali pada suatu ketika, beliau kesal juga dengan gagasan gorong-gorong yang ‘revolusioner’ itu menurut penggagasnya. Bicaranya pun jarang serius, selalu penuh kelakar khas sunda, kalaupun serius itu kala-kala saja.

Atribut hitam yang disandangnya menjadi ciri khas, sehingga tidak sulit mengenalinya. Tubuh subur, suara menggelegar, rambut panjang tapi jarang. Tampak betul bahwa beliau ini seorang yang emosional, ‘berandalan’ dan fasih dalam ‘pemberontakan’. Terkadang agak sulit juga memahami jalan pikirannya, yang kontroversial dan sesuka hati. Tapi itulah originalitasnya di mata saya.

Harry Roesli bukan tipe orang yang penuh basa-basi. Semuanya lurus-lurus saja, blak-blakan dan seadanya. Terkadang rikuh kalau berbicara berhadap-hadapan dengannya, karena ‘etika jawa’ yang masih melekat di diri saya jadi luntur seketika. Terkadang muncul keraguan, sopankah saya? Tapi tampaknya Kang Harry toh tidak terlalu peduli dengan itu semua. Baginya, semua orang tampaknya sama saja.

Dalam beberapa diskusi, berminggu-minggu setelah pertemuan pertama itu, saya mulai bisa beradaptasi. Waktu itu topik yang sedang menghangat adalah gerakan mahasiswa, yang sedang panas karena aksi menjatuhkan rezim Orde Baru. Terutama di Bandung, meskipun saya bukanlah tokoh utama, tapi saya memang terlibat dalam gerakan itu. Suka tidak suka, karena saya menjabat sebagai Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas waktu itu. Maka semakin terlibatlah saya di Supratman 57, mulai dari diskusi-diskusi tentang mahasiswa, sampai kesepakatan mendirikan sebuah yayasan, yang dipelopori juga oleh beberapa orang seniman dan jurnalis.

Puncak ketegangan di Supratman semakin terasa, ketika bulan Mei 1998, kekacauan mulai merebak di Jakarta. Hari-hari di Bandung pun semakin dipenuhi dengan aksi mahasiswa. Anti Status Quo, demikian sebuah spanduk besar di Supratman 57, yang turut mengobarkan semangat anti Orba. Berbagai atribut, mulai dari stiker sampai kaos-kaos bertuliskan Anti Status Quo, tampak memenuhi ruang-ruang di Supratman.

Tewasnya mahasiswa Trisakti dalam tragedi Semanggi I dan Semanggi II, menjadi ikatan yang semakin mengentalkan semangat perlawanan atas rezim Orba. Gerakan mahasiswa semakin tinggi frekuensi dan kuantitasnya. Saya sempat berhari-hari harus menginap di kampus, atau terkadang menginap di Supratman untuk bisa mengakses informasi terbaru mengenai situasi Jakarta. Diskusi-diskusi pun semakin kerap, dan mulai berusaha menduga-duga, apa yang akan terjadi pasca tragedi tewasnya mahasiswa.

Kang Harry membuat road show di Jakarta dan beberapa kota lain, yang menyuarakan Jangan Menangis Indonesia. Lagu ciptaan lama, yang sangat emosional dan kontekstual dengan situasi waktu itu, sungguh memikat hati. Diisi dengan video-video tentang kekerasan pada mahasiswa, Kang Harry mencoba ‘menyengat’ ramai-nya kafe-kafe di Jakarta. Pesan moral yang dibawakannya menyebar, dan berhasil menghipnotis orang-orang Jakarta untuk sejenak menengok huru-hara di jalan raya, yang sudah di luar kendali.

Lalu datanglah hari itu, pengumuman dari Suharto yang menyatakan mundur dari jabatan Presiden Republik Indonesia. Sorak sorai mewarnai jalan-jalan, tak kalah haru di Supratman pun sangat terasa aroma kemenangan. Entah kemenangan siapa, kalau saya bandingkan dengan kejadian sekarang. Tapi saat itu adalah saat yang sangat emosional. Pengakuan Kang Harry, betapa di jamannya perlawanan melawan rezim Orba tidak menghasilkan apa-apa, kini akhrnya terjadi juga. Keruntuhan Orde Baru, demikian pemikiran kita waktu itu.

Tapi muncul ketegangan baru. Kerusuhan, penjarahan, pemerkosaan, membuat miris hati. Pembakaran berkobar di mana-mana, dan Bandung sempat dikejutkan dengan pembakaran di pelataran parkit Gedung Sate. Kang Harry kembali tidak bisa berkata-kata. Semua tidak bisa berkata-kata. Pemandangan suram di televisi, yang mempertontonkan kesewenang-wenangan massa, hanya bisa kami cerap dengan mulut terkunci rapat. Sesekali menghela napas, atau melontarkan makian putus asa.

* * *

Aktivitas mahasiswa mulai surut, demikian pula aktivitas saya di kampus. Supratman mulai berganti aktivitasnya, dari diskusi-diskusi politik, menuju diskusi pemberdayaan masyarakat miskin. Dikawal oleh sang bijaksana, Bapak Muhammad Ridlo Eisy, Supratman mengibarkan bendera kepedulian pada masyarakat miskin. Berdirilah Yayasan Bandung Peduli, dimana Kang Harry menjadi salah satu pendirinya.

Di sela-sela diskusi-diskusi kemelaratan yang semakin merata, Supratman masih aktif membangun wacana-wacana bangsa pasca Orba. Kang Harry mengundang beberapa tokoh-tokoh, dan mengajak kami semua diskusi. Reformasi, kata yang kini berusaha saya hindari penulisannya, bergaung mengisi wacana pembaharuan pemerintahan waktu itu. Tidak seperti sekarang, kata itu masih membangkitkan harapan yang besar pada masa depan Indonesia.

Dalam setiap diskusi-diskusi itu, Kang Harry memang tidak selalu bicara. Kalimat-kalimatnya memang tidak selalu secanggih politikus-politikus, atau pengamat-pengamat di televisi, tapi selalu sarat makna. Gaya ‘tidak serius’ yang biasa diperagakannya paling tidak selalu menghadirkan suasana yang lain pada ruang diskusi. Tak jarang ia ‘memaksa’ kami, para mahasiswa yang hadir di ruang diskusi untuk berbicara. Dan dengan sedikit terbata-bata, saya pun terkadang ikut-ikutan bicara.

Di luar diskusi-diskusi ‘resmi’ itu, beberapa di antara kami juga sering terlibat dalam perbincangan panjang lebar dengan Kang Harry. Dan seperti biasanya, sudut pandang Kang Harry selalu bisa menangkap adegan-adegan tak lazim, yang diceritakannya dengan penuh kelakar. Kamipun tak jarang bisa tertawa-tawa sampai pagi buta, mentertawakan kebodohan-kebodohan yang ada di sekeliling, atau bahkan kebodohan kita sendiri.

Mungkin agak aneh kalau Kang Harry saya anggap pendiam, tapi sepanjang pengamatan saya, itulah impresi yang saya dapat. Sebenarnya, mungkin juga karena Kang Harry sudah kehabisan kata-kata. Itu pengakuannya, ketika akan merilis buku ‘Kesaksian’ dalam rangka Ulang Tahun-nya. Maka daripada berkerut merut, Kang Harry lebih memilih bercanda dalam menyampaikan gagasan-gagasannya. Dan menangkap gagasan-gagasan dalam setiap leluconnya, kita bisa melihat betapa referensi pemikirannya sebenarnya sama rumit dengan para pemikir lainnya.

Sayang, hanya ada satu Harry Roesli. Si bengal yang meledak-ledak pemikirannya, si ‘pendiam’ yang sebenarnya ingin banyak bicara, tapi seperti kehabisan kata-kata.

Selamat Ulang Tahun ke-53 Kang!


September, 2004.
Posting Komentar