17 Agt 2004

(Menjadi Orang) Merdeka atau Mati!


Setiap menjelang bulan Agustus, di sana-sini mulai semarak aroma perayaan hari ulang tahun kemerdekaan negeri ini. Bendera-bendera dikibarkan, umbul-umbul dipancangkan, arena perlombaan dipersiapkan, dan sudut-sudut kota mulai dibersihkan. Hampir semua lapisan mayarakat turut serta berpartisipasi dalam hajatan tahunan ini. Tak jarang, seperti juga pada waktu lebaran, orang-orang sibuk berbondong-bondong pulang kampung, agar bisa 'tujuhbelasan' di kampung.

Sudah banyak ahli sejarah yang berkomentar, betapa hajatan tahunan seperti ini semakin kehilangan maknanya. Hajatan tinggal hajatan, tak ada nilai-nilai kemerdekaan yang benar-benar diresapi. Yang ada hanyalah kegembiraan dan senang-senang. Tak peduli apa kata para ahli, masyarakat tetap melangsungkan hajatan tahunan ini, karena tak jarang pula hajatan ini mendatangkan uang bagi sebagian orang.

Di zaman seperti sekarang, entah apa makna yang terkandung pada kata kemerdekaan. Kemerdekaan, dari kata merdeka, atau mahardhika dalam bahasa kawi/sansekerta yang berarti 'keramat', atau 'sangat bijaksana', mengacu pada seseorang atau sesuatu yang memiliki kedudukan sangat tinggi dan mulia (Yudi Latif, Merdeka Bung!, Kompas 13/8/2004). Jika pada masa lalu predikat ini dialamatkan pada para pemimpin agama Budha yang memiliki strata sosial amat tinggi, kini seluruh umat manusia di muka bumi berhak atas predikat ini.

Penegasan ini dianut oleh bangsa kita, dengan kalimat "bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa..." yang kemudian diikuti dengan pernyataan "maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan". Kalimat lugas, yang dinyatakan dalam UUD 45 ini, sudah tentu diketahui betul oleh bangsa kita. Selain harus selalu dibacakan pada setiap upacara bendera di sekolah, setiap orang dari kita tentu pernah belajar tentang Civic Education, Pendidikan Moral Pancasila (PMP), atau yang kini disebut sebagai Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN).

Masih Adakah Penjajahan atau Penindasan?

Apapun bentuknya, pendidikan kita sebenarnya sudah berusaha setengah mati melestarikan nilai-nilai kemerdekaan ini sehingga bisa dimaknai dengan benar oleh segenap anak bangsa. Tidak puas dengan pendidikan formal, pada masa ORBA dulu kita ingat betul program Penataran P4 getol-getolnya dilaksanakan. Tapi apa yang terjadi sesungguhnya? Kenapa dengan mudah kasus Mei 1998 terjadi? Gerakan separatisme, atau yang sejenisnya, muncul dimana-mana, baik yang terang-terangan atau yang masih malu-malu dengan kedok kedaerahan atau kesukuan. Belum lagi yang diberi label agama.

Apakah zaman reformasi mampu membuat perubahan-perubahan yang fundamental dalam sisi nasionalisme? Sesaat, pada waktu mahasiswa di Jakarta menjerit pilu karena kawan-kawannya ditembaki, terasa aroma nasionalisme merebak di segenap penjuru. Semua orang perlu melengkapi dirinya dengan atribut-atribut nasionalisme yang saat itu diberi nama reformis. Bermunculanlah banyak reformis, entah yang asli atau palsu.

Orde Baru, dituding sebagai rezim yang menindas. Banyak daerah mengeluh karena merasa dijajah oleh bangsa sendiri (baca: orang Jawa). Reformasi menjadi mometum penting, yang menguak segala uneg-uneg yang selama ini dipendam. Bak api dalam sekam, dalam sekejap meledak dan membakar sampai ke sudut-sudut pelosok negeri.

Benarkah masih ada penjajahan? Masih adakah yang disebut penindasan? Kalau melihat kenyataan yang ada, tak bisa dipungkiri bahwa penjajahan dan penindasan masih subur di negeri ini. Dari yang kasat mata, hingga yang samar-samar. Siapa pelakunya? Tak lain dan tak bukan adalah bangsa ini sendiri. Jadi apa sajakah hasil reformasi yang menelan korban nyawa sebegitu banyaknya?

Reformasi bukan saja membuka mata kita pada berbagai bentuk penjajahan dan penindasan yang terjadi di negeri ini. Reformasi ternyata juga turut menyuburkannya, bahkan memberinya amunisi baru. Dengan semangat reformasi, berbagai kalangan, baik itu individu, kelompok, bahkan lembaga, menuntut hak mereka yang selama ini tidak terdistribusi pada mereka. Klaim pada sumberdaya, memunculkan konflik-konflik horizontal yang sejak dulu dipupuk, dan kini mencapai klimaksnya.

Muncul berbagai bentuk penjajahan dan penindasan baru. Otonomi di berbagai bidang bukannya berpihak pada rakyat, malah semakin membebani rakyat. Demokrasi di satu sisi, melahirkan anarki di sisi lain. Reformasi ternyata tidak berbuah apa-apa pada rakyat, yang sudah tidak sabar menanti perbaikan nasib. Petani tetaplah petani, yang masih saja miskin diperas oleh kepentingan pengusaha dan penguasa. Kemana hilangnya makna baris kalimat yang dikutip penulis di atas dari Pembukaan UUD 45 kita yang sakral itu?

Benang Kusut, Semakin Ditarik Semakin Kusut

Ibarat benang kusut, kondisi bangsa ini semakin rumit dan sulit dicari ujung pangkal permasalahannya. Semakin ditarik dengan paksa, bukannya semakin terurai, tapi semakin kusut saja.

Tetapi tidak bisa dipungkiri, bahwa pada kenyataannya, reformasi memang telah melahirkan banyak sekali perubahan. Perubahan-perubahan ini tentu saja tidak serta merta bisa dirasakan oleh masyarakat kalangan bawah, kalangan akar rumput yang jarang tersentuh manisnya pembangunan. Perubahan ini dinilai sebagian orang masih setengah hati, menyisakan keraguan, akankah negeri ini mampu keluar dari kemelut. Banyak kenyataan yang menunjukkan, betapa reformasi belum menampakkan wujudnya dalam kebijakan-kebijakan. Ambillah contoh, betapa BPPN 'tampaknya' saja tegas menyita berbagai aset milik pengusaha bermasalah, tapi kemudian dijual lagi dengan harga tak setara kepada orang-orang yang notabene adalah pemilik lamanya juga. Apakah itu artinya?

Andai saja, sewaktu reformasi lalu sedang dalam puncak momentumnya, dilakukan sebuah pengambilan garis demarkasi yang tegas antara masa lalu dan masa kini, mungkinkah akan berbeda dampaknya? Berbagai kekusutan yang terjadi saat ini muncul karena masih ada banyak kompromi-kompromi yang tak seharusnya terjadi. Kekusutan benang KKN tak hanya membelit di dalam tubuh birokrasi, kini bahkan telah menjadi mafia, sulit ditundukkan karena terlalu banyak yang terlibat di dalamnya. Mana mungkin meruntuhkan satu departemen yang luar biasa korup, jika di dalamnya banyak nyawa tergantung penghidupannya? Kompromi memang harus terjadi, tetapi apakah harus menafikan makna keadilan?

Tak cukup satu simpul saja yang harus ditarik, karena banyak sekali simpul yang saling mengait, dan saling berikat. Budaya feodal dan primordialisme menjadi penghadang utama, yang belum selesai berevolusi. Di zaman semodern ini, kerangka berpikir orang-orang di sekitar kita masih terbelenggu oleh hegemoni tradisi. Nilai tradisi yang salah aplikasi.

Siapa Kuat Dia Dapat

Di alam 'kemerdekaan' yang kusut ini, siapa yang bisa bertahan hidup? Yang pasti bukan orang miskin, karena orang miskin kini harus mematuhi banyak aturan dasar, antara lain Dilarang Sekolah, dan Jangan Pernah Sakit. Pemerintah tak kuasa mengentaskan rakyatnya dari kemiskinan, untuk itu rakyat miskin harus tahu diri. Kalau kecewa dengan mahalnya biaya sekolah wajib, atau pelayanan kesehatan plat merah, ya sudah terima saja. Siapa suruh jadi orang miskin?

Negeri ini mengajarkan, betapa jadi orang kaya adalah segala-galanya. Bahkan artis remaja kita bisa berfilsafat, bahwa uang bukanlah segala-galanya, tapi segalanya kini membutuhkan uang. Dengan uang kita bisa membeli kebahagiaan, bisa membeli sekolah-sekolah berkualitas, bisa membeli pelayanan kesehatan, bisa memangkas birokrasi, pendeknya bisa berbuat apa saja.

Untuk menjadi kaya, cukup banyak pilihannya. Orang-orang bisa berdagang apa saja untuk menjadi kaya, termasuk menjual harga dirinya. Aktivis bisa menjadi kaya dengan menjual ideologinya. Agamawan bisa juga menjadi kaya dengan menjual agamanya. Pejabat dan politikus bisa menjadi kaya dengan menjual kekuasaannya. Artis film dan sinetron bisa menjadi kaya dengan menjual tubuhnya. Penyanyi bisa kaya dengan menjual suaranya. Aristokrat bisa menjadi kaya dengan menjual otaknya. Adakah yang salah dengan itu semua?

Sistem yang mematerikan semua hal, telah memiskinkan hati nurani kita. Ukuran-ukuran materialisme, mematikan semangat kemerdekaan yang sesungguhnya. Hanya orang kuat yang akan bisa bertahan hidup dari carut marutnya sistem kehidupan kita sekarang.

Kuat dari sisi kekuasaan, karena berkuasa adalah segala-galanya. Berkuasa atas akses yang seharusnya bisa dinikmati banyak orang, atau berkuasa atas hajat hidup yang tergantung kepadanya. Ditopang budaya feodal yang kuat, kekuasaan adalah senjata ampuh untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Diramu dalam primordialisme yang kental, kekuasaan bisa dimiliki dengan mudah, dengan modal seadanya.

Feodalisme gaya raja-raja zaman dahulu kala ini tentu saja tidak menginginkan kemerdekaan yang sebenarnya. Untuk menjadi raja, harus menempatkan rakyat sebagai alas kakinya. Rakyat hanyalah pembayar pajak, yang bekerja untuk raja. Pembangunan memang dilakukan, untuk menyokong lancarnya setoran rakyat pada raja-raja. Semua aparatur di bawah raja, memang disiapkan untuk mengabdi hanya pada raja. Tidak mungkin menempatkan rakyat sebagai manusia yang memiliki kedudukan tinggi dan mulia, karena itu artinya mensejajarkan rakyat dengan rajanya.

Menjadi Orang Merdeka, atau Mati

Hanya orang merdeka yang mampu mengubah kehidupannya, dan kehidupan di sekitarnya. Merdeka dalam arti yang sesungguhnya. Merdeka, dalam arti menjadi orang yang tidak terbelenggu oleh sistem yang menjerat bagai lingkaran setan. Orang merdeka, yang mampu keluar dari lingkaran dan struktur yang menindas, dan mengubahnya.

Tidak mudah tentu saja menjadi orang merdeka, tapi layak untuk dicoba. Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan dari Brasil yang menyuarakan pemikiran kritis, sudah pernah mencobanya. Menurut Freire, penindasan hanya akan melingkar-lingkar terus dan tak ada habisnya jika kita tak sanggup memutusnya. Pertama-tama tentu kita perlu memahami benar, penindasan seperti apa yang kita alami, lalu menganalisanya, dan berbuat sesuatu terhadapnya.

Freirian mengajarkan betapa penindas adalah juga korban dari sebuah sistem yang menindas. Tak ada gunanya selalu menyalahkan si penindas, karena suatu saat kita bisa saja menjadi penindas baru. Yang menjadi masalah utama adalah sistem yang menindas itu. Selama sistem yang menindas itu dibiarkan hidup dan menyempurnakan bentuk-bentuk penindasannya, maka penindasan akan terus ada. Dan sistem penindasan yang paling sempurna adalah penindasan yang tak tak kasat mata oleh orang-orang di dalamnya.

Menjadi orang merdeka harus mampu mengidentifikasi sistem yang menindasnya, berhenti menyalahkan oknum-oknumnya, dan mengubah sistem itu sehingga tidak melahirkan penindasan baru. Penegakan keadilan menjadi modal utama, tetapi tanpa melahirkan dendam-dendam celaka dan sakit hati.

Jika konsisten dengan makna merdeka, dimana setiap manusia dipandang sebagai sesuatu yang berkedudukan tinggi dam mulia, maka kesetaraan adalah hasilnya. Adalah fitrah setiap manusia untuk berbuat kesalahan, sehingga harus ada sistem yang mengaturnya. Sistem yang mengatur ini tidak saja bermakna hukuman terhadap pelanggarnya, tetapi juga sistem yang mampu mengantisipasi pelanggaran yang bisa saja terjadi. Sistem ini harus mampu menutup setiap celah yang bisa saja diselewengkan untuk kepentingan pribadi, kelompok, atau saudara-saudaranya.

Hanya orang-orang merdeka yang mampu menciptakan sistem yang merdeka. Membebaskan diri dari berbagai kepentingan sempit, dari nilai-nilai yang bertentangan dengan kemanusiaan, dari feodalisme, dan semua bentuk penindasan. Tak ada kompromi bagi sistem lama, karena itu hanya akan menumbuhkan bibit penindasan dengan gaya baru.

Itulah yang penulis tangkap dari cita-cita UUD 45 kita. Bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa, beserta segenap umat manusia yang hidup di dalamnya. Kalimat yang kini akan berusia 59 tahun ini masih sulit dicari wujudnya, karena kita ternyata belum bisa benar-benar mengimplementasikannya. Aroma ketakutan-ketakutan masih menyengat di antara kita untuk bisa menjadi orang merdeka. Sistem yang menilai segalanya dengan materi masih membelenggu. Semua masih berlomba untuk memperkaya dirinya, kelompoknya, atau saudara-saudaranya sendiri. Belum ada yang sungguh-sungguh memikirkan bagaimana caranya supaya kita bisa menjadi kaya bersama sebagai bangsa. Atau paling tidak, bagaimana caranya supaya kita tidak jatuh miskin bersama.

Meneruskan sistem yang menindas ini, sama dengan mematikan kemanusiaan kita. Mati, bisa dalam arti yang sesungguhnya, atau sekedar mati karena tak bisa berbuat apa-apa. Maka pilihannya adalah menjadi orang merdeka, atau mati saja.

Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia. Merdeka!

Bandung, Agustus 2004
Posting Komentar