2 Agt 2004

Mendekonstruksi Mo Limo: Pergeseran Nilai (2)

Kebudayaan dipercaya selalu berubah, mengisi ruang dan waktu yang senantiasa berubah pula. Rasanya tak ada satupun kebudayaan yang benar-benar stagnan. Meskipun lamban berubah, suatu kebudayaan memang sudah fitrahnya untuk berubah. Meskipun orang-orang sibuk menutup diri dari perubahan, lambat laun, sadar atau tidak, mereka akan melakukan perubahan itu.

Nilai tradisi Jawa, berserakan di berbagai bidang, dari hal kecil tentang hubungan antar manusia sampai urusan politik negara. Manusia jawa kini, yang masih teguh berpegang pada nilai-nilai tradisi lamanya, mampu melihat dunia ini dalam sudut pandang nilai yang dikuasainya. Ada jawaban untuk semua fenomena, meski terkadang berbau sangat magis.

Tapi di zaman penuh tantangan baru saat ini, memaknai peristiwa-peristiwa kehidupan dengan sudut pandang tradisi jawa saja, sudah tak memadai lagi. Nilai tradisi, yang diagungkan dan bahkan terkadang didogmakan, sudah harus mulai memperbaharui jati dirinya. Kalau tidak, maka tradisi hanya akan tercecer di belakang, tertinggal oleh kecepatan perkembangan zaman.

Mo Limo, meski belum terlalu usang diterpa zaman, tapi menyiratkan ‘cacat’ di sana-sini. Diakui atau tidak, keagungan tradisi pasti punya kelemahan. Sehebat-hebatnya Samson Betawi versi alm. Benyamin, tapi waktu rambut ketiaknya digunduli, lenyap sudah segala kedahsyatannya. Atau analogi lain yang lebih tepat, seperti mengajari anak kita untuk tidak mencuri. Bagi anak tujuh atau delapan tahun, dogma mencuri adalah dosa adalah sakral. Jika ia coba-coba melakukannya, maka gemetarlah ia. Tapi bagi koruptor di negeri kita, mencuri sudah bukan lagi sekedar dosa, tapi ritual. Ritual birokrasi. Lalu keluarlah kalimat-kalimat dengan bahasa dewa, yang artinya kira-kira pembenaran atas tindakan mereka.

Begitu pula Mo Limo, dulu referensi dan preferensi pada saat kelahirannya adalah kenyataan hidup sehari-hari yang dihadapi. Dengan tantangan-tantangan hidup yang ala mereka. Sedangkan sekarang, tantangan zaman berubah. Dulu wanita berpakaian kemben dianggap biasa-biasa saja. Di Bali perempuan-perempuan bertelanjang dada, di Irian para pria hanya pakai Koteka. Apakah lalu moral mereka waktu itu lebih rendah dari kita sekarang? Apakah lalu mereka kurang beradab jika dibandingkan dengan kita sekarang?

Di satu sisi mungkin saja. Tapi tidak di sisi lain. Sialnya, setelah kita bolak-balik sudut pandang kita, ternyata ada yang tak berubah. Kulitnya saja yang tampak baru, tetapi substansinya sama saja. Kebejatan moral ada di mana-mana, keserakahan juga, keinginan membunuh tetap ada, pemerkosaan pun tak pernah alpa.

Suka tidak suka, nilai yang ada pada Mo Limo sudah bergeser jauh letaknya. Dulu, minum itu tak baik. Sekarang, minum itu asal tidak mabuk boleh-boleh saja. Minum untuk menghormati teman itu sah-sah saja. Dan seterusnya. Kecanggihan otak manusia merekayasa alasan-alasan itu, paling tidak sudah memberi makna yang berbeda pada setiap butir dalam ajaran Mo Limo.

* * *

Kalau peradaban di barat sana mengenal proses dari tradisi menjadi modern, lalu menjadi postmodern, dan seterusnya, kita di Timur ini juga mengalami proses yang sama. Kalau tradisi berpikir dengan paradigma magis, maka era modern mulai berpikir dengan logika, tapi masih dalam kerangka yang naif. Bosan dengan rasionalitas ala modernis, lahirlah postmodern yang mengakomodir segala macam pemikiran, di sini manusia mulai berpikir kritis.

Berawal dari skeptis, segala hal yang tadinya dianggap sampah dipandang sebagai nilai yang bisa saja diakui kembali jika bisa dikritisi. Proses memaknai kembali nilai-nilai tradisi tanpa terjebak di dalamnya, memang bukan pekerjaan mudah. Kita harus bisa mengambil jarak dengan kenyataan. Jarak pandang kita harus diperluas, melebar, berputar 360 derajat. Cara pandang holistik diperlukan untuk bisa memperbaharui nilai-nilai itu agar tak lekang ditelan zaman.

Tapi apakah manusia-manusia Jawa rela nilainya diobrak-abrik cara pandang lain yang diangap tak berakar di tanah leluhurnya? Ya, tidak tahu. Sebagian orang-orang tua masih tidak rela nilai tradisi itu dirubah begitu saja, karena akan menghilangkan jatidiri. Jatidiri sebagai orang Jawa, dalam arti seluas-luasnya. Bahkan tidak saja di Jawa (Jawa Tengah atau Timur khususnya), di beberapa tempat di Indonesia ini sudah mulai sadar potensi dirinya sebagai etnis yang berada (eksis). Di era otonomi yang kental dengan istilah local content, semua orang kini sibuk mempersiapkan jatidirinya masing-masing.

Sementara pada saat yang sama, dunia sedang menghilangkan istilah lokal, diganti dengan global, mendunia. Apakah itu berarti mereka akan menghilangkan ciri lokalnya? Kelihatannya tidak. Mereka meluncurkan gagasan berhadap-hadapan di tingkat global karena mereka sudah yakin betul, mereka sudah siap untuk itu. Global village, kampung besar, itu semua sudah ada di benak mereka. Jadi yang mereka tuntut adalah, dimanapun kita (‘kita’ adalah mereka) berada, kita harus merasa di kampung sendiri. Maka tak heran kalau menengok hotel-hotel berbintang lima, semua aturan disusun sedemikian rupa supaya pengunjungnya, yang datang dari berbagai penjuru dunia, merasa berada di rumah mereka sendiri.

Dimana kita (kita sebagai kita) saat itu? Sebagian dari kita masih terbenam dalam kemagisan tradisi, sebagian lainnya mengambang dalam tataran kritis, dan sebagian lainnya bingung di ruang abu-abu. Pakaian kita memperlihatkan modernitas kita, tapi mental menyiratkan ke-primitifan. Cara bicara kita sudah mengisyaratkan keglobalan, tapi cara berpikir kita masih di zaman manusia gua.

Ketika peradaban lain sedang menggapai postmodernitas, maka kita boro-boro kesana, modern dalam arti sebenarnya saja belum. Tapi sialnya, kita tak pernah mau berlapang dada mengakuinya. Kita sibuk menutup-nutupi belang kita dengan selimut baru. Kita masih saja merasa tradisi itu dogma, yang harus dilestarikan seketat-ketatnya. Kalau perlu kita kembali ke masa keemasan kerajaan-kerajaan, lalu menutup diri dan tidak membiarkan peradaban lain memasuki wilayah kita.

Cara berpikir mundur, yang mengisyaratkan keputusasaan, ketidakberdayaan, dan ketidakarifan. Kenapa tidak kita akui saja, bahwa kita memang masih dalam di dalam gua, dan setelah itu mari kita bersama-sama keluar menyongsong matahari. Mungkin silau pada awalnya, tapi paling tidak kita sudah siap menghadapinya. Jangan halangi pintu gua, karena hanya akan meloloskan penyelinap-penyelinap, dan ketika ia kembali ke dalam gua lalu membawa cerita-cerita dunia luar, takjublah kita dibuatnya.

Kesadaran untuk mengkritisi diri kita, artinya sama dengan kesadaran untuk mengkritik nilai-nilai di sekeliling kita. Masih lariskah falsafah Mo Limo itu dalam kehidupan kekinian kita? Jika ya, mari sama-sama cari aplikasinya. Jika tidak, mari sama-sama cari pembaharuannya.Maka istilah Post Mo Limo seolah-olah mau bicara, bahwa sudah saatnya kita keluar dari kesempitan cara berpikir kita. Mari kita silang-rujukkan nilai-nilai itu dengan situasi kekinian kita. Mampukah Mo Limo ini berhadapan dengan Global Village di depan hidung kita?

* * *

Lalu apa setelah kita bisa memperbaharui nilai-nilai tradisi itu? Tentu saja harus kita temukan salurannya untuk bisa mengalirkannya ke segenap penjuru. Di surau-surau pengajian, di bangku-bangku sekolah, di tepi sungai, di pelataran, di atas tempat tidur, atau di meja makan kita. Seniman-seniman akan mementaskannya dalam pertunjukkan-pertunjukkan mutakhir, atau di dalam galeri-galeri pameran. Politikus harus menyuarakannya di mimbar-mimbar menjulang.
Posting Komentar