3 Agt 2004

Mendekonstruksi Mo Limo: Pengkhianatan (1)

Ah, minum sedikit saja kan ndak apa-apa...
Ah, kan cuma coba-coba sedikit saja...
Ah, kan mabuknya demi estetika...
Ah, kan mabuknya ndak bikin onar di jalan raya...

Baru satu dari lima. Belum semuanya. Itu belum apa-apa, tapi lihat saja dampaknya. Bahkan norma-norma yang kita pikir ada gunanya, mulai dikorupsi maknanya. Dicari-cari pembenaran untuk menghindarinya.

Mo Limo; Minum, Main, Madhat, Madhon, Maling. Belum juga bicara kelima-limanya, sudah frustasi kita dibuatnya. Jangankan bicara yang lima, yang satu saja sudah bikin pusing kepala. Makna sudah asing di telinga. Kecerdasan manusia sudah mencapai suatu ambang yang menakjubkan, dimana nilai-nilai bisa direduksi. Disesuaikan seperti harga gula.

Moralitas merupakan penilaian secara kultural tentang benar atau salah, baik atau buruk, yang menyangkut perilaku manusia sesuai standar norma. Pertanyaannya, norma yang mana? Norma yang dengan mudah bisa dikompromikan dengan budaya 'rikuh'? , yang secara sempit bisa diterjemahkan sebagai (merasa) tidak enak, atau sulit menolak, bisa melahirkan dua implikasi. Rikuh untuk melanggar norma, atau rikuh untuk tidak ikut-ikutan melanggar norma. Ironisnya, rikuh dipercaya juga sebagai salah satu budaya yang telah menjadi norma.

Orang Jakarta menyebut rikuh dengan istilah 'tengsin'. Meski tidak sama persis dengan gengsi, tapi rikuh memang mengandung makna gengsi. Rikuh mendorong anak-anak muda berbohong di depan ayah bundanya. Rikuh menenggelamkan mereka dalam kemabukan besama kawan-kawan mereka. Rikuh bisa menutup mata mereka, bahwa manusia hanyalah seonggok daging yang akan jadi korban derasnya minuman yang ditenggaknya.

Baru satu kata, dan saya sudah bingung bagaimana mengakhirinya.

Minum hanyalah satu perbuatan dalam Mo Limo. Minum adalah tindakan manusia, seperti juga tindakan lainnya, yang bisa dilakukan dengan kesadaran. Tindakan yang dilakukan dengan kesadaran, artinya ia tahu betul apa resikonya. Maka ia harus siap mempertanggungjawabkannya.

Tapi minum bisa juga sebuah aktivitas yang kebetulan saja, alias tidak dikehendakinya dengan sengaja. Jika itu hanyalah suatu kebetulan belaka, maka ia boleh melepaskan diri dari tuduhan apapun juga. Ia bisa saja minum ketika sedang tidur, atau ketika ia sedang gila, atau juga ia bisa saja minum ketika masih balita. Perbuatan yang tak sengaja itu di luar landasan moral dan tidak memiliki nilai etis.

Di sinilah muncul kontradiksi. Ketika baru satu kata yang dibicarakan, sudah membentur budaya lainnya. Budaya paradoks, Mo Limo versus 'Kuh Rikuh' (istilah yang saya buat sendiri, meminjam dialek Madura). Dalam sempitnya sudut pandang budaya saat ini, budaya yang satu dengan mudah diruntuhkan oleh budaya lain. Inilah mungkin kompleksitas budaya Jawa.

Setiap norma yang berkembang, dengan sadar dipraktekkan. Dan anehnya, meskipun saling mereduksi, tetapi masing-masing tetap hidup, dengan segala reduksi yang terjadi tentu saja. Ketidakberdayaan manusia Jawa menghadapi rasa rikuh, membelenggunya dalam dilema. Bayangkan seorang jujur sedang naik daun, beristri cantik sedang berbadan dua, buah hati pertamanya. Pada suatu hari diundang atasannya, dalam sebuah pesta. Pesta bukan sembarang pesta, karena melibatkan kelima-limanya. Ya minumnya, ya mainnya, ya madhatnya, ya madhonnya, ya malingnya...

Tapi sudahlah. Baru satu kata saja, saya sudah mulai kehilangan kesabaran.

* * *

Menjunjung tinggi hubungan antar individu dengan rasa hormat dan kerukunan memang tak ada salahnya. Asalkan bukan KKN dan korupsi hasilnya. Kesetiakawanan dan keakraban adalah wajib hukumnya, asal tidak sekedar duit ujung-ujungnya.

Keikhlasan sudah ikut-ikutan kehilangan makna. Ikhlas atau rela, sedang menjajagi ruang baru, ruang merugi. Kuh Rikuh kini menggantikannya. Ada istilah balas budi disana, menjadi komoditi yang akan menerabas pagar Mo Limo. Saling menghormati jadi bahan pijakan untuk melompati tembok Mo Limo. Keikhlasan hanya akan menjadi debu, menutupi prasasti Marmer Mo Limo, yang pantas disingkirkan.

Lima butir falsafah Mo Limo yang seharusnya jadi standar norma, kini cuma enak dipandang mata. Tertulis dalam prasasti-prasasti bertuliskan huruf Kawi. Merdu terdengar mengalun diiringi gamelan Jawa.

Kuh Rikuh dalam arti yang disempitkan telah menindas peradaban manusia Jawa. Gulungan ombaknya yang melewati batas kepala, menghanyutkan apa saja. Ya kesabaran hatinya, ya ketekunanya bekerja, ya ketegarannya menghadapi kenyataan, ya kesetiaannya, dan juga kejujurannya. Rikuhnya sudah salah alamat, bukan pada Penciptanya, tapi hanya pada kawan-kawannya.

Tulisan ini sudah hampir selesai, begitu pula segelas vodka di tangan saya.

Bdg, Juli 2004
Posting Komentar