26 Agt 2004

Kontroversi BCG - Masyarakat (Juga) Berhak Memilih


Baru-baru ini sebuah film remaja mendadak heboh oleh munculnya pro dan kontra berbagai pihak. Mulai dari ulama, kalangan artis, para cerdik pandai, hingga pemerintah tak kalah nyaring bersuara. Tak perlu lagi berpanjang lebar mengenai pro-kontranya, karena hampir setiap hari, di media cetak maupun elektronik kasus ini menjadi perbincangan yang hangat.

Tapi di antara pro-kontra tersebut, penulis tertarik dengan pemikiran Garin, yang bicara mengenai strategi kebudayaan (Garin Nugroho, Pembelajaran atau Ketidakberdayaan, Kompas 22/08/04). Meski Din Syamsuddin dalam kutipan sebuah media cyber juga mengungkapkan hal yang sama, tapi berdasarkan kerangka pikir yang utuh, penulis memilih tulisan Garin sebagai bahan acuan.

Pertanyaan Garin, cukup menggelitik pada judul artikel tersebut, "Pembelajaran atau Ketidakberdayaan?" Bicara dalam konteks pembelajaran, bangsa ini sudah mencatatkan dirinya sebagai 'keledai' yang terus-terusan terperosok pada lubang yang sama. Kasus seperti film Buruan Cium Gue! (2004) ini tidak sekali muncul. Ada kasus film Pembalasan Ratu Laut Selatan (1989), dan kasus-kasus serupa lainnya. Seolah tak pernah belajar dari berbagai peristiwa yang telah lalu, kasus film Buruan Cium Gue! ini muncul ke permukaan, mengagetkan pihak LSF, insan perfilman, dan masyarakat luas.

Artinya tidak banyak yang mengambil pelajaran dari kasus terdahulu. Ataukah memang tak ada pelajaran yang bisa diambil dari kasus-kasus terdahulu? Kenapa sampai terjadi demikian? Masih banyak pertanyaan yang bisa diajukan, tetapi pada akhirnya jawabannya adalah kenyataan yang kini terpampang di depan mata kita. Film Buruan Cium Gue! akhirnya ditarik dari peredaran, karena kuatnya desakan-desakan dari mereka, yang dalam pandangan penulis adalah para minoritas di negeri ini. Minoritas dalam arti positif, yaitu orang-orang yang saleh, pintar, cantik, dan bermoral.

Tindakan penarikan ini perlu dilakukan, karena dipandang telah meresahkan masyarakat. Sementara film ini menjadi kontroversi, penjualan tiket pertunjukkannya meningkat tajam. Sejak diputar perdana pada tanggal 5 Agustus 2004 yang lalu, di 62 Bioskop 21 (Twenty One) di 16 kota, disinyalir oleh produsernya telah menyedot hampir setengah juta penonton. Bisa dipastikan film ini telah beredar pula versi bajakannya dalam VCD atau DVD, sehingga lebih mudah diakses oleh siapapun. Maka angka 'hampir setengah juta' orang penonton itupun jadi relatif.

Cukup mengherankan bukan, sebuah film yang 'meresahkan' ternyata malah mendapat animo besar dari penontonnya. Tampaknya ada dua opini yang berkembang di masyarakat saat ini, yang merasa resah, dan yang penasaran dengan keberadaan film itu. Perlu sebuah penelitian yang lebih serius untuk menghitung, mana yang lebih besar, masyarakat yang resah atau yang justru penasaran. Tapi mungkin data-data ini bisa digali oleh lembaga polling, atau di televisi-televisi untuk mengetahui seberapa besar sebenarnya pro dan kontra permasalahan ini di tingkat masyarakat akar rumput.

Sangat perlu untuk mengukur opini masyarakat, agar tergambar dengan jelas, siapa saja masyarakat yang resah itu, dan siapa saja masyarakat yang penasaran ingin menonton film itu. Dari data-data seperti inilah, kegiatan kampanye bisa diluncurkan. Dan kegiatan kampanye anti pornografi, misalnya, yang didukung pula oleh mantan artis 'panas' di masa lalu, bisa menemukan sasaran yang tepat, tidak kehabisan energi hanya untuk sekedar cuap-cuap di media massa yang cukup besar biasnya.

Hegemoni Elite, Pengambilalihan Peran oleh Sebagian Orang

Bicara tentang pembelajaran, terutama dalam hal ini adalah pembelajaran di kalangan masyarakat, maka meskipun sedikit, tentu akan bersinggungan juga dengan lembaga yang bernama sekolah. Meski proses belajar bisa terjadi dimana saja, termasuk di dalam gedung bioskop, di depan layar televisi, atau bahkan di dalam WC sekalipun, tapi tak bisa dinafikan bahwa peran sekolah di negara kita ini masih sangat kuat. Terbukti, lewat sekolah-lah Orde Baru memancangkan tonggaknya dengan kuat, sehingga banyak yang tak tahu seberapa dahsyat Orde Baru telah mengkooptasi pemikiran kritis menjadi pemikiran naif dan magis.

Pembelajaran, baik yang terjadi di dalam maupun di luar sekolahan, seharusnya membekali 'peserta didiknya' dalam menghadapi permasalahan hidup masa kini dan masa depan. Berbekal masa lalu, pembelajaran adalah sebuah proses untuk tidak mengulangi kesalahan. Kalau seseorang masih mengulangi kesalahan yang sama, artinya ia belum belajar. Mungkin ia hafal langkah-langkah yang harus ia tempuh, tapi belajar tidak sama dengan menghafal.

Untuk bisa menggunakan masa lalu sebagai bekal belajar, maka diperlukan sebuah pemikiran yang kritis. Hanya dengan pemikiran kritis, kita bisa mengkoreksi kesalahan-kesalahan di masa lalu itu, dan memulai sesuatu yang baru. Sesuatu yang lebih baik, dan lebih menjanjikan. Sesuai pepatah yang mengatakan, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan besok harus lebih baik dari hari ini.

Masyarakat kita saat ini sebagian besar masih merupakan produk Orde Baru, yaitu masyarakat yang nurut dan pasrah, tapi pemarah. Maka bakat-bakat kepemimpinan sangat diperlukan untuk membimbing manusia-manusia penurut ini menuju alam yang lebih menjanjikan. Lahirlah pemimpin-pemimpin dengan gelar sejuta umat, atau mungkin semilyar umat. Bahkan ada yang diberi gelar Kyai Setrilyun. Kepemimpinan beliau-beliau ini sangat penting artinya bagi manusia-manusia Indonesia penurut, karena mereka merasa sangat kesulitan bahkan dalam membuat keputusan untuk dirinya sendiri.

Kembali ke konteks penarikan kembali film Buruan Cium Gue! ini, pemimpin-pemimpin inilah yang maju paling depan untuk melindungi umat dari ancaman amoralisme. Patut dipuji langkah yang mereka ambil, mengingat dampak buruk yang selama ini kita rasakan dengan adanya KKN bersumber dari penyakit amoralisme ini.

Tapi seperti yang ditulis di awal, masyarakat yang mana sebenarnya yang perlu dilindungi itu? Lalu masyarakat mana yang menyadari dengan cepat bahwa film ini akan berdampak buruk? Atau meresahkan? Dari kurang lebih 200 juta penduduk Indonesia ini, ada dimanakah mereka?

Masyarakat yang perlu perlindungan ini, apa saja yang mereka pelajari ketika peristiwa yang sama menimpa 15 tahun yang lalu? Atau pertanyaannya bisa diarahkan kepada para pengajarnya, apa saja yang telah diajarkan selama 15 tahun belakangan ini, agar masyarakat dari generasi yang berbeda mampu mengatasi permasalahan yang sama? Atau dalam bahasa yang sederhana, apa saja yang terjadi dalam proses pembelajaran selama ini? Apakah masyarakat telah dididik menjadi kritis, sehingga mampu mengkoreksi kesalahan masa lalu, dan menghindari terjadinya masalah yang sama di masa kini?

Ketika masalah ini muncul di media massa, dinyatakan bahwa atas desakan masyarakat luas, film Buruan Cium Gue! harus ditarik dari peredaran. Kalimat 'atas desakan masyarakat luas' ini perlu dicetak tebal. Benarkah masyarakat luas, dari bawah sampai atas? Kenyataannya adalah 'beberapa orang', dengan membawa gerbong berlabel masyarakat, yang dengan penuh rendah hati 'mengorbankan' dirinya untuk maju dan memberantas segala bentuk kemaksiatan di negeri ini.

Tapi sampai kapan kita bisa memiliki pemimpin-pemimpin seperti mereka? Jika suatu saat nanti mereka telah tiada, siapa yang akan menggantikan tugas 'jaga' mengawal dan melindungi masyarakat akar rumput yang awam itu?

Disinilah permasalahan hegemoni elite yang menguasai masyarakat terjadi. Semua peristiwa, yang juga dialami oleh masyarakat awam, dimaknai dengan standar-standar kaum elite tanpa menjadikan peristiwa ini sebagai pembelajaran yang utuh bagi semua kalangan masyarakat. Yang terjadi adalah, mengutip kalimat Garin, sebuah refleksi ketidakberdayaan. Ketidakberdayaan masyarakat dalam arti seluas-luasnya untuk menghadapi tantangan zaman, sehingga harus diwakili oleh kaum elitenya. Atau, ketidakberdayaan para pemimpin dalam membangun masyarakatnya agar mampu mengatasi permasalahan. Di satu sisi para pemimpin berusaha memperjuangkan kalangan akar rumput, di sisi lain kalangan akar rumput bahkan tak tahu apa substansi permasalahannya.

Inilah yang juga dinyatakan Garin sebagai strategi kebudayaan. Jika saja sejak 15 tahun yang lalu telah dikembangkan sebuah strategi yang jelas dan terarah dalam mengatasi permasalahan pornoaksi dan pornografi di negeri ini, mungkin yang bakal terjadi adalah ibu-ibu atau bapak-bapak yang secara sadar berbaris keliling kota, membagi-bagikan selebaran, mengusung spanduk-spanduk dan papan-papan bertuliskan "KAMI MENOLAK PORNOGRAFI". Tidak perlu ada pembredelan, tidak perlu ada yang merasa dirampas hak-haknya, dan tidak perlu ada yang merasa dikekang kreativitasnya. Sebuah praksis yang demokratis dan nyata, tidak direkayasa, tidak dipaksa, tidak ikut-ikutan, dan tidak diorganisir oleh kalangan atau pihak tertentu. Sungguh sebuah pemandangan menakjubkan.

Memutus Reproduksi Nilai dengan Pemberdayaan

Selama manusia tidak bisa atau tidak mampu belajar dari masa lalunya secara kritis, maka sulit memutuskan lingkaran setan seperti yang terjadi saat ini. Setiap peristiwa hanya akan berulang, dan manusia hanya akan berkutat pada masalah yang itu-itu saja. Kapan kebudayaan akan berkembang menuju masa depan yang penuh tantangan-tantangan baru?

Sifat-sifat manusia yang tidak dirubah, hanya akan mereproduksi nilai masa lalu, yang terasa semakin lambat, kurang antisipatif, dan tidak sesuai perkembangan zaman. Sifat-sifat manusia hanya bisa berubah jika sistemnya dirubah. Sebuah sistem dengan kompleksitasnya, memagari peri kehidupan manusia dengan sejuta norma. Namanya bisa apa saja, bisa sistem agama, sistem adat, atau sistem sosial yang berlaku di dalam sebuah tatanan masyarakat.

Pemimpin-pemimpin bisa memulai dengan mengkoreksi metode 'pembelajarannya', agar bisa mencerahkan sekaligus menyejukkan. Membangun kesadaran kritis pada setiap permasalahan aktual. Turun lebih jauh sampai ke akar rumput, bergaul dengan mereka, berbicara dengan bahasa yang mereka mengerti, dan memberdayakan mereka. Bukan hanya sekedar basa basi dari atas mimbar atau di media massa, dan menghipnotis mereka dengan sejuta retorika, tapi melihat langsung dengan mata kepala sendiri apa yang sebenarnya terjadi dengan masyarakat akar rumput kita.

Gagasan pendidikan seks bagi generasi muda harus lebih ditingkatkan lagi intensitasnya, karena tantangan yang semakin berat. Akses informasi harus dibuka seluas-luasnya bagi kalangan terisolasi, karena hanya informasi yang bisa menjadi referensi masyarakat untuk mengambil keputusan. Semakin banyak informasi yang diketahui, maka masyarakat akan semakin percaya diri, dan mampu membuat keputusannya sendiri.

Pola asuh orang tua juga harus mulai dikaji kembali, sudah sesuaikah dengan perkembangan zaman? Orang tua yang selalu menjauhkan bahaya dari anak-anaknya, hanya akan melahirkan anak-anak manja yang tak kenal tantangan. Bagaimana mungkin membedakan kebaikan dan keburukan, jika mereka tak pernah melihat mana yang buruk? Keburukan atau kejahatan memang diadakan di muka bumi ini sebagai contoh, agar manusia dapat belajar darinya, bukan menginternalisasi bentuk-bentuk kejahatan atau keburukan itu ke dalam dirinya.

Perkembangan media massa, yang akhir-akhir ini terlalu bebas hambatan, tanpa ada tentangan yang berarti dari masyarakat, tak perlu dihambat laju perkembangannya. Biarkan berkembang sesuai fitrahnya, tapi diperlukan kajian-kajian oleh masyarakat akar rumput yang mampu memilih dan memilah sendiri, mana media buat mereka, dan mana yang bukan. Ini yang kemudian dikenal sebagai literasi media (Media Literacy). Kemampuan masyarakat awam 'membaca' media sebagai sebuah pembawa nilai-nilai atau gagasan-gagasan baru, dan mengkritisinya agar tidak berdampak negatif. Media yang berdampak negatif akan menerima nasibnya di keranjang sampah. Tanpa penyeimbangan seperti ini, maka media akan meluncur cepat, dan kita terseret olehnya.

Mungkin sudah saatnya literasi media ini masuk ke kelompok usia dini anak-anak kita, agar selain mampu menulis dan membaca dengan konsep lama, huruf dan angka, juga mampu mencerap bahasa audio dan visual yang semakin deras terpaannya. Jika iklan saja sudah mulai mensegmenkan anak-anak, maka anak-anak itu harus memiliki kemampuan yang fasih dalam mencerap iklan-iklan itu, dan menduga apa maunya. Sudah waktunya orang tua mewaspadai bahasa-bahasa dan komunikasi gaya baru yang sangat pesat perkembangannya.

Sampai ke tahap ini, maka film Buruan Cium Gue! adalah sebuah fenomena yang seharusnya ditanggapi secara lebih serius. Sekarang kita masih punya Aa Gim dkk, tapi sepuluh atau tiga puluh tahun yang akan datang? Di masa anak-anak kita yang saat ini masih duduk di bangku sekolah dasar, seperti apakah tantangannya? Tidaklah sulit untuk diduga.

Maka masyarakat yang hakiki itu adalah masyarakat yang berdaya, mampu mengatasi permasalahan hidupnya tanpa harus selalu dibantu oleh campur tangan pemimpinnya. Tugas seorang pemimpin adalah seperti juga tugas orang tua, membekali anak-anaknya dengan kemampuan mengatasi tantangan kehidupan di masa datang. Tapi orang tua tidak pernah memiliki anak-anaknya, karena anak-anak mereka itu pada suatu saat akan membangun kehidupannya sendiri. Dan momen pemimpin akan surut, digantikan oleh pemimpin-pemimpin lain yang lebih muda. Pemimpin yang baik tentu dilahirkan oleh sebuah tatanan masyarakat yang baik pula. Pemimpin tidak ujug-ujug jatuh dari langit, tapi tumbuh dan besar di antara masyarakatnya. Masyarakat yang mampu dengan sadar menentukan pilihan terbaik, bagi diri dan lingkungannya.

Bandung, Agustus 2004

Posting Komentar