13 Agt 2004

Kemana Saja Gerakan Senirupa?

Dulu Tertindas, Kini Kelewat Bebas
Belum hilang dari ingatan, represi Orde Baru yang mengkebiri kebebasan berekspresi melalui seni. Masih hangat pula atmosfir reformasi yang membuka semua bendungan, menumpahruahkan gairah, menciptakan euforia kebebasan di segala bidang. Begitu pula ruang ekspresi seniman terbuka lebar, selebar-lebarnya sehingga mengalir deras tak tertahankan.
Selain termotivasi oleh dendam lama, kebebasan mengeksplorasi ruang ini memang sangat dinanti-nantikan oleh semua orang. Gagasan-gagasan yang dulu terpendam menjadi uneg-uneg dan keluhan, kini bebas diungkapkan. Di gang-gang, pangkalan becak pinggir jalan, sampai ke dalam angkutan kota, diskusi tentang hal-hal yang dulu tabu dibicarakan kini tanpa tedeng aling-aling muncul ke permukaan.

Sungguh indah menikmati kebebasan yang tampaknya bakal menuju pencerahan ini. Melihat karya-karya senirupa semakin menampakkan tajinya, mengais-ais kenyataan, menampilkannya dengan penuh kejujuran. Mendengar diskusi-diskusi rakyat kelas bawah yang mulai cerdas menilai kinerja wakil-wakilnya. Menyaksikan acara-acara televisi yang semakin ‘panas’, baik materi tayangannya maupun atmosfir persaingannya. Harapanpun terbersit pada sebuah era baru, era pencerdasan.

Tapi indah bagi segolongan orang, ternyata gerah bagi golongan lainnya. Segolongan yang gerah ini mulai mengorganisir diri dan kelompoknya, mulai menyusun rencana-rencana untuk membela diri, kalau perlu melibas orang-orang yang bersebrangan ideologinya. Tensi pun makin tinggi, korbanpun berjatuhan. Kitapun sontak tersadar kembali. Ada apa sebenarnya yang terjadi? Benarkah kita sudah berada dalam era kebebasan yang mampu mencerdaskan itu?

Pekerjaan Rumah yang Terlupaka
Peristiwa pembakaran karya instalasi perupa asal Bandung, Tisna Sanjaya, yang diindikasi menghina kalangan tertentu, membuat geger dunia ‘persenimanan’. Tak kurang media mengupasnya, memberitakan tragedi ini sebagai bentuk penindasan baru (atau kembalinya penindasan lama).

Tapi di luar itu, apa sebenarnya yang terjadi? Benarkah pelakunya memang tidak mengerti, bahwa apa yang dibakarnya adalah sebuah karya seni? Jika memang tidak mengerti, lalu kenapa? Pertanyaan ini sungguh menggelitik penulis. Penulis melihat masalah ini di luar konteks politiknya, yang memang sudah dibicarakan di berbagai media. Tapi penulis memandang masalah ini pada persoalan, bagaimana sebenarnya proses dialog terjadi antara seniman dengan orang awam (baca: masyarakat umum).

Kita anggap bahwa si pelaku pembakaran adalah juga orang awam, yang jarang bersentuhan dengan dunia seni, dalam arti kurang mampu mengapresiasi sebuah karya seni. Apa sebabnya? Apakah seniman selama ini sudah melakukan pencerdasan kepada masyarakat umum secara sistematis, tentang persoalan-persoalan yang berkembang di seputar senirupa? Jika sudah, kenapa kalangan yang ini masih mengaku tidak tahu kalau yang dibakarnya adalah sebuah karya seni?

Banyak pertanyaan yang mengganggu penulis, terutama penulis merasa adalah juga bagian dari orang awam, yang belum tentu bisa membedakan mana karya seni mutakhir, dan mana yang sampah.

Berangkat dari pertanyaan ini, penulis menganggap bahwa ada persoalan yang belum selesai dikerjakan. Atau tepatnya ada pekerjaan rumah yang belum selesai, ketika terjadi pergantian era, dari era represif menuju era euforia. Pekerjaan itu adalah mencerdaskan masyarakat umum, termasuk penulis, agar mampu mengapresiasi karya-karya seni dengan baik. Pekerjaan ini seharusnya dilakukan secara sistematis, terukur dan berkesinambungan. Tidak saja agar masyarakat awam mampu mengapresiasi karya seni, tapi lebih jauh agar masyarakat mampu mengambil hikmah dari sebuah proses pemaknaan terhadap karya seni. Selanjutnya tentu saja masyarakat mampu merefleksikan pemahaman yang didapatnya, dan kemudian melahirkan sebuah aksi yang konkrit.

Tapi lagi-lagi, paradigma ini hanya bisa masuk akal jika perupa yang bersangkutan memang memiliki orientasi untuk mencerdaskan khalayaknya. Dan pertentangan orientasi gerakan senirupa selama ini adalah perdebatan panjang yang tak pernah selesai. Bahkan melahirkan semacam aliran-aliran, seperti juga yang tercatat dalam sejarah, dimana pada suatu masa seni pernah menjadi art for art sake, atau seni menjadi suatu media propaganda suatu kepentingan. Semua kembali pada masing-masing pelaku seninya, mau apa dengan karya seni yang dibuatnya.

Karya Seni, Gesekan Antar Kepentingan
Tanpa harus membeda-bedakan art for art sake, atau seni untuk propaganda, atau apalah namanya, penulis memandang seni secara umum menjadi suatu yang penting dalam proses pencerdasan masyarakat. Kejujuran seni menjadi cermin yang mampu merefleksikan fenomena masyarakat, dan dibalik itu tentu bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat agar tidak terulang kembali.

Analoginya bisa kita temukan secara serampangan dalam syair-syair lagu Iwan Fals, atau syair-syair puisi Rendra. Ketika Iwan Fals bicara tentang wakil rakyat, sekitar tahun 80-an, seharusnya fenomena malasnya wakil rakyat mampu menjadi pelajaran yang tak perlu terulang di era abad-21. Tapi kenyatannya, lagu itu sampai sekarang masih saja kontekstual. Ada yang bilang si seniman punya sens of futuristif, tapi ada juga yang menganggap bangsa inilah yang tak pernah belajar.

Paling tidak dari lagu itu, masyarakat yang tak pernah sempat baca koran, atau bahkan tak mampu membaca sama sekali, tahu bahwa wakil-wakilnya memang ada yang malas seperti yang diceritakan dalam lagu itu. Entah itu sebuah orientasi propaganda, ataukah hanya sebuah kejujuran karya?

Mau tidak mau, karya seni memang selalu tidak bisa lepas dari berbagai kepentingan, entah itu gairah perupanya, atau aroma orang-orang yang gerah dengan gagasannya. Gesekan kepentingan ini pasti akan melahirkan percikan-percikan. Tapi itu adalah konsekuensi yang harus siap diterima. Pertanggungjawaban terhadap karya adalah hal yang lumrah untuk dilakukan. Entah ancaman apa saja yang diterima Iwan Fals misalnya, ketika menciptakan lagu-lagu yang kontroversial itu.

Persoalan orientasi menjadi agak penting, tapi mustahil untuk dipaksakan, apalagi digeneralisasikan. Tapi yang penting, bagaimana kejujuran karya seni ini menjadi sesuatu yang bermakna dan berguna bagi masyarakat luas. Cukup sesederhana itu saja. Jangan sampai persoalan ini membatasi kreativitas si seniman dalam berkarya, ataupun menjadi semacam kriteria yang membeda-bedakan mana karya seni mutakhir, dan mana yang sampah.

Kolaborasi Seniman dan Media
Dalam rangka mengerjakan pekerjaan rumah yang sistematis dan berkesinambungan di atas, banyak hal sebenarnya telah dilakukan. Banyak perupa-perupa sudah melakukan pameran-pameran di tempat yang dapat diakses oleh masyarakat luas. Bahkan banyak yang melakukannya di ruang publik, demi mencapai khalayaknya.

Di ruang pameran yang selalu nampak ‘mengerikan’ bagi orang awam, banyak hal pula yang sudah dan bisa dilakukan. Misalnya bagaimana mengorganisir pameran yang mampu diakses seluas-luasnya oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Seperti yang pernah penulis baca, bagaimana dalam sebuah pameran dibuat katalog-katalog yang berbeda-beda untuk setiap kalangan. Ada katalog khusus bagi kolektor, ada yang khusus bagi masyarakat awam, bahkan ada yang khusus untuk pengunjung anak-anak (siswa sekolah dasar, bahkan taman kanak-kanak).

Anak-anak sebagai investasi masa depan, terkadang memang masih luput dari perhatian kegiatan-kegiatan pameran senirupa. Sangat jarang anak-anak mendapat akses yang cukup dalam menikmati suatu pameran karya seni. Terkecuali pameran senirupa khusus untuk perupa-perupa cilik. Padahal anak-anak merupakan segmen yang pantas mendapat tempat, terutama karena mereka adalah investasi seperti yang penulis sebutkan di atas.

Pekerjaan yang kelihatannya mudah diucapkan ini tentu saja tidak mudah untuk dilaksanakan. Butuh sumberdaya yang luar biasa, selain harus memiliki komitmen juga harus memiliki keahlian.

Posting Komentar