19 Jul 2004

Menang Saja Tidak Cukup

Yunani menyerang balik dari sayap kanan, atau sayap kiri pertahanan Perancis. Seorang pemain bersiap melepaskan umpan silang ke tengah kotak penalti, sementara pemain belakang Perancis bukannya menutup ruang tembaknya, melainkan malah mundur. Dan umpan silang dilepaskan, dengan cepat seorang pemain Yunani yang lain menyambar bola dengan sundulannya. Kiper Perancis terhenyak. Pemain belakang Perancis semuanya melongo. Lepas sudah gelar juara Eropa yang mereka raih tahun 2000 lalu seiring dengan bersarangnya si kulit bundar ke sudut kiri atas gawang Perancis.

Peristiwa tragis menyelimuti pertarungan putaran final Piala Eropa 2004. Satu persatu tim-tim besar bertumbangan. Pertama Spanyol, Inggris, Italia, Jerman, Perancis, Belanda. Tim Jerman bahkan tak pernah menang di setiap pertandingannya. Nama besar ternyata tidak bisa menjadi taruhan, karena kenyataan di lapangan berbicara lain.

Menjelang final Kejuaraan Piala Eropa 2004, kita juga menghadapi putaran final yang tak kalah seru. Pemilihan langsung Presiden dan Wakil Presiden, yang baru pertama kali dilaksanakan dalam sejarah Bangsa Indonesia, memasuki tahap kampanye dan sebentar lagi tahap pencoblosan. Sama seperti kejuaraan Piala Eropa, sebelum putaran final yang meloloskan 5 calon Presiden/ Wakil Presiden, dilakukan juga babak kualifikasi. Bedanya pemilu kita menyaring 5 dari 6 peserta, sementara Piala Eropa menyaring 50 negara se daratan Eropa dan hanya meloloskan 16 tim untuk bertarung di putaran final.

Sudah pasti mereka yang lolos ke putaran final adalah mereka yang berkualitas, dari sisi skill, pengetahuan, dan kemampuan. Entah bagaimana caranya, yang pasti mereka sudah ada di putaran final. Itu sudah menjadi bukti yang cukup untuk melegitimasi keberadaan mereka. Suka tidak suka, penonton disuguhi tontonan 16 tim di putaran final Piala Eropa, dan lima pasangan di putaran final pemilu presiden/wakil presiden.

Meskipun ada lima dari hanya enam calon yang masuk ke putaran final pemilu presiden, bukan berarti babak kualifikasi pemilu presidennya kurang berkualitas. Kalau 50 negara se daratan Eropa bertarung memperebutkan 16 ‘kursi’ di putaran final, sebelum pemilu presiden sudah dilakukan babak kualifikasi tahap I, yaitu pemilu legislatif. Pemilu legislatif kita menghasilkan tujuh partai yang ‘layak’ tampil, dari 24 partai yang ikut babak ‘kualifikasi.’

Tujuh partai inilah yang kemudian mencalonkan kadernya menjadi calon presiden, yang berarti seharusnya ada tujuh calon presiden. Ternyata ada satu partai yang tidak ikut dalam pertarungan pemilu presiden, sehingga hanya ada enam calon presiden di babak kualifikasi, dan kemudian 1 calon tereliminasi, sehingga calon presiden di putaran final menyisakan lima calon.

* * *

Jika Perancis sebagai juara bertahan bisa tersingkir di perempat final oleh Yunani, kita tidak bisa semena-mena menuduh Yunani atau Perancis bermain politik uang. Yang jelas terlihat di layar televisi kita, Yunani bermain dengan penuh determinasi, tak kenal lelah, mengejar semua pemain Perancis yang memegang bola. Tak diberinya kesempatan kepada Perancis untuk mengembangkan permainan, apalagi berinisiatif menyerang. Apapun yang dilakukan Perancis, Yunani berhasil meredamnya. Selain menumpuk 8 orang di kotak penalti, Yunani juga menerapkan strategi sapu bersih, dan tackling keras, sehingga Yunani kurang disenangi oleh penonton karena negative football yang mereka peragakan.

Tapi yang jelas pendukung Yunani berpesta pora.  Melenggang ke semi final, dan lalu terus ke final setelah mengandaskan Ceko, kini Yunani siap di Grand Final, berhadapan dengan Portugal, sang tuan rumah. Sulit memprediksikan mana yang bakalan menang. Banyak kepentingan yang akan berperan, selain prestise karena bisa memenangkan gelar juara sepakbola di daratan Eropa. Pasar taruhan yang habis-habisan mempertaruhkan uang mereka, adalah juga faktor besar yang tidak bisa disepelekan. Seorang pemain Kolombia pada Piala Dunia 1998 lalu menjadi korban, ditembak mati oleh orang yang mungkin saja adalah petaruh kesal karena kalah taruhan.

Negative football, bertemu samba Eropa, paling tidak itulah gambaran partai final Piala Eropa 2004 nanti. Anda boleh mengecam Yunani karena negative football-nya menumbangkan kesebelasan kesayangan anda. Tapi itulah kenyataannya. Bola itu bundar, lapangan itu masih hijau, dan pergerakan bola dari kaki-kaki pemain menyusuri lapangan hijau sangat tergantung pada keputusan sang pelatih, strategi macam mana yang akan mereka pakai.

Kalau melihat strategi para calon presiden kita dalam berusaha memenangi pertarungan dalam pemilu presiden kali ini, entah mana yang menggunakan strategi bertahan, menyerang, atau possession football. Dari ajang debat calon presiden yang baru-baru ini digelar, semua calon bermain dengan sangat hati-hati, tidak pernah fokus kajiannya, dan cenderung sangat normatif. Apa yang disampaikan sepertinya semua orang juga sudah tahu. Menarik investor asing dengan cara meningkatkan ketertiban dan keamanan negara, rasanya anak SMA pun sudah mulai fasih melafalkannya.

Yang tampak jelas adalah semuanya berambisi terpilih jadi RI-satu. Menang dalam pemilihan adalah langkah strategis yang paling utama, jaminan keberhasilan pelaksanaan program kerja adalah nomor berikutnya. Tentu tidak salah berpandangan demikian, tapi rakyat bukanlah penonton sepak bola atau petaruh dalam pasar taruhan. Rakyat-lah yang akan memilih mereka, dan rakyat berhak mendapatkan apa yang mereka harapkan. Kalau salah satu dari mereka menang, rakyat tidak hanya akan ikut senang, larut dalam pesta pora semalam, lalu sudah. Ada masa lima tahun yang harus dipertanggungjawabkan para calon presiden yang bakal terpilih. Dan nasib bangsa ini ada di tangan mereka.

Beberapa nama besar tercantum sebagai calon pasangan presiden/wakil presiden. Ada mantan jenderal berbintang empat, ada mantan menteri, ada petani, ada kyai, ada pula pengusaha, dan tentu saja sang ‘juara bertahan.’ Sanggupkah mereka membuktikan bahwa nama besar mereka bukan tong kosong yang nyaring bunyinya?

Menang pemilu saja tidaklah cukup. Perlu pembuktian lebih lanjut, agar bangsa ini terbebaskan dari berbagai permasalahan yang semakin kompleks. Jika tidak mampu menjadi pemimpin yang bisa menyelesaikan permasalahan, maka rakyat siap mencabut kembali kepercayaannya. Rakyat tidak akan membiarkan presiden pilihannya cuma jadi boneka berbagai kepentingan. Sudah sewajarnya rakyat menuntut komitmen presiden mendatang agar bersikap lebih moderat, mau mendengarkan suara dari bawah, bukan dari sekelilingnya saja.

Begitu pula dengan partai final Piala Eropa 2004 nanti. Penonton tidak hanya berharap ada tim yang bakal menang, tapi penonton berharap sesuatu yang lebih. Paling tidak tontonan sepakbola yang menarik, memperagakan teknik kelas dunia, menghibur, dan menggairahkan. Toh penonton tidak bisa berbuat apa-apa kalaupun kedua tim tidak benar-benar bermain sepak bola, melainkan hanya adu otot menuju kampiun sepak bola se-daratan Eropa.

Juli, 2004
Rahadian P. Paramita
Posting Komentar