18 Jul 2004

Masihkah Kita Butuh Keteladanan?

Tajuk rencana Kompas hari Rabu, tanggal 15 Juli 2004, mengenai moral bangsa yang sudah sedemikian terpuruknya, sehingga mulai membutuhkan keteladanan, agaknya menyiratkan suatu 'keputus-asaan'.

Penulis sendiri tidak begitu percaya bahwa setelah zaman Nabi-nabi diturunkan ke Bumi, akan ada lagi suatu masa dimana kita perlu meneladani seseorang atau suatu kaum demi perbaikan moral.

Bicara keteladanan, sama halnya dengan bicara pendidikan, bagaimana mengajarkan kepada orang yang tidak tahu agar menjadi tahu. Tetapi persoalannya, dalam dunia orang dewasa, tidak ada lagi bahasa diajarkan. Orang dewasa adalah orang yang sudah memiliki cukup pengalaman dalam hidupnya, sehingga memiliki cukup banyak redferensi dalam berperilaku atau mengambil keputusan.

Keteladanan yang ditunjukkan Nabi Muhammad, SAW adalah suatu bentuk 'kekesalan' Tuhan pada bangsa Arab waktu itu yang sungguh tak beradab. Sistem macet, korup, dan tak jelas arahnya mau kemana. Itulah pula mungkin yang menyebabkan zaman itu kemudian disebut-sebut sebagai zaman Zahiliyah.

Kebuntuan macam apa yang sedang kita hadapi ini? Mampukan seorang Presiden menjadi 'nabi' yang membawa keteladanan bagi seluruh umat?

Sebagai orang dewasa dan berpendidikan, seharusnya manusia abad 21 ini sudah mampu mengatur diri mereka, baik di dalam kelompok kecil maupun dalam tatanan bernegara, bahkan di tingkat internasional. Tak aneh jika sekuleritas banyak muncul di negara-negara Barat, karena bagi mereka tanpa agama pun hidup mereka sudah sangat teratur. Bukankah agama bermanfaat untuk mengatur kehidupan manusia? Setidaknya itulah gambaran yang penulis tangkap dari pemikiran-pemikiran sekuler.

Sistem yang mengatur kehidupan manusia-lah yang seharusnya dijadikan patokan. Jika sistem kita sudah korup, crash, dan tidak bisa di manfaatkan lagi, maka jangan ragu-ragu untuk segera membuangnya, dan jangan lupa untuk menggantinya dengan yang baru.

Membangun sistem yang baru inilah pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai. Atau mungkin juga sebagian dari kita malas mengerjakannya. Nyaman menempati rumah dinas lengkap beserta fasilitasnya, lupa pada tugas-tugas yang diembannya.

Kalau kemudian masyarakat berharap Presiden bisa menjadi 'pembawa' jalan terang, membawa alam baru yang lebih terang benderang, penulis kira itu adalah harapan yang terlalu berlebihan. Apa yang bisa dilakukan seorang pemimpin jujur dalam suatu sistem yang korup? Tidak akan banyak waktu untuk meneladani rakyat dengan perilaku-perilaku santun, atau protokoler semata.

Hanya ada dua pilihan. Pertama, buang sistem yang korup itu, jangan sekali-kali dilirik lagi (karena terkadang menyimpan celah untuk menguntungkan diri sendiri). Simpan rapat-rapat. Siaplah dengan goncangan besar yang akan terjadi, karena sistem yang tiba-tiba dirombak. Jangan pernah takut dengan ketidaksiapan, selama konsekuensinya bisa diprediksi.

Kedua, larut dalam sistem yang carut marut itu. Meski dengan berjuta pembenaran, yang bagi penulis, hal itu hanya menyiratkan satu hal, ternyata si pemimpin tidak sejujur yang digembar-gemborkannya.

Keteladanan adalah perilaku usang, rakyat saat ini tidak butuh keteladanan, tetapi butuh keberdayaan. Rakyat yang berdaya tidak akan menggantungkan hidupnya pada seorang Presiden semata. Rakyat yang berdaya akan bersikap dewasa, tidak membanggakan hasil korupsinya di depan umum, dan yang lebih penting tentu saja tidak melakukan korupsi yang merugikan rakyat banyak.

Rakyat yang berdaya, akan mampu menciptakan sistem yang kuat. Sistem jangan dipaku dari atas, tetapi harus lahir dari bawah, karena bagian bawahlah yang akan menyangga sistem itu sehingga tetap tegak berdiri.


Bdg, Juli 2004
Posting Komentar