5 Jul 2008

Jakarta, Siapa Sangka (2)

Motorised bajajImage via Wikipedia Aku menghela nafas sejenak. Dongkol tentu saja. Tapi inilah rupanya basa basi asin yang dulu diceritakan Jakarta. Ini sama sekali bukan basa basi! Aku jadi merasa ingin segera pulang, dan mendamprat Jakarta habis-habisan atas interpretasinya yang tak lumrah. Interpretasi yang menyesatkan...

Beberapa saat setelah itu, bosku memanggil kami semua ke ruang meeting. Aku tak bisa menebak ada apa gerangan. AKu bahkan tak mendengar suara si Bos memanggil-manggil seperti biasanya. Hanya sekretarisnya saja yang menyampaikan berita tak sedap ini ke semua orang.

Jantungku berdebar-debar. Semuanya pun begitu menurutku, tampak dari raut wajah mereka, dan suara-suara rumpi di beberapa sudut. AKu menebak ada yang tak beres dengan meeting kali ini. Tapi hati kecilku dari sebelah yang satunya lagi menolak anggapan itu.

AKU #1
"Ah, paling-paling ada pekerjaan yang mendadak, yang harus segera diselesaikan,"

AKU #2
"Tapi mana mungkin meeting di jam seperti ini? TIdak lebih dari satu jam lagi sudah waktunya pulang, jika seandainyapun meeting itu menghasilkan sebuah tindak lanjut, lalu kapan dilaksanakannya?"

AKU #1
"Bukan! Ini bukan meeting seperti itu, mungkin saja Bos punya berita penting,"

AKU #1
Tidak!

AKU #2
Mungkin...?

AKU #1
Ah...

Brakk !!!

Dengan muka merah padam si Bos membanting berkas dokumen di atas meja meeting. TAk berani aku menoleh ke kanan maupun ke kiri. Mataku cuma tertuju pada selembar kertas di depanku, sebuah pulpen, dan kedua jari-jari tanganku. Kucoba melirik ke arah berkas di ujung meja sebelah sana...

Suasana menjadi sangat tegang. Bos belum juga bicara, hanya menghela nafas panjang, dan mengetuk-ketukkan jarinya di atas meja. Suaranya sedemikian jelas, lantaran tak seorangpun berani bersuara. Tapi raut mukanya jelas memperlihatkan tanda-tanda yang tak ramah.

PAK BOS
"Saya sudah bicarakan hal ini berkali-kali. Jangan berbuat kesalahan! Jangan berpikir, pokoknya Bekerja! Titik!!!"

Semuanya masih terdiam tak bersuara. Aku hanya bisa mencorat-coret tak jelas di atas kertas kerjaku, tak tahu harus bagaimana. Akupun belum tahu, kesalahan yang mana yang jadi persoalan kali ini. Dan pertanyaan besarnya adalah, siapa penyebab utamanya?

PAK BOS
"Kamu! Mulai hari ini juga, saya tidak mau melihat muka kamu lagi disini!"

Semua langsung mendongakkan kepala. Ingin segera tahu siapa yang dimaksud si Bos. Perlahan dan penuh rasa cemas, akupun melirik ke arah yang lain. Jantungku serasa berhenti berdetak, lantaran si penyebab kekacauan ini ternyata persis ada di sampingku. Kupikir mereka semua menatap ke arahku. Hampir aku terlompat dari kursiku.

Jakarta... Oh, Jakarta... Sang Sekretaris ternyata biang keladinya. Dia memang duduk persis di sebelahku, dan di sebelah Bosku. Semua langsung merasa lega dengan tertangkapnya si biang keladi. Tapi hanya ada satu yang mengherankan. Si Sekretaris tidak tampak terlalu risau. Wajahnya memang agak pucat, tapi biasa-biasa saja.

Ah, Jakarta... Kini aku tak mau lagi bertemu lama-lama dengan dia. Beberapa tahun kemudian aku bertemu kawanku, kawan satu kantorku. Dalam salah satu bab cerita panjangnya tentang Jakarta, dia kisahkan bagaimana si Bos akhirnya berhasil punya istri dua.

Ah, aku kira istri keduanya itu hanya gosip belaka. Ternyata, benar adanya. Selintas baru saja aku melihat sang sekretaris keluar dari sedan berbintang tiga, yang sedang parkir di hotel bintang lima di sini, bukan di Jakarta.

Jakarta, Juni 2003.
Enhanced by Zemanta
Posting Komentar