6 Jul 2008

Jakarta, Siapa Sangka... (1)

another billy's.Image via Wikipedia
Ternyata Jakarta tidak seperti yang dibicarakan orang-orang. Jakarta masih baik-baik saja, tidak kronis asmanya, tidak TBC paru-parunya, tidak pula terganggu saluran kencingnya. Memang benar bahwa sekali-kali ia masih suka kencing di celana, membasahi organnya sendiri, bahkan sampai ke menenggelamkan beberapa organ lainnya. Tapi Jakarta masih hidup, begitulah setidaknya menurutku.

Di mataku, Jakarta cuma sedang risau saja. Mungkin sedikit kalut, tapi baik-baik saja. Diapun tidak menunjukkan gejala-gejala kecanduan narkotika, atau 'sakaw' kalau kata mereka. Coba saja perhatikan dengan jeli, Jakarta masih bisa kok menyantap makanan pinggir jalan berdebu ala Warung Tegal. Meskipun memang berbintang tiga merk mobilnya, dan tak perlu berseterika setelannya. Berarti Jakarta masih baik-baik saja.

Dua bulan kemudian pun, aku masih berteman baik dengan Jakarta. Bahkan aku masih sempat meyakinkan kolega-kolagaku, bahwa Jakarta tidak apa-apa. Kita bisa menanamkan saham padanya, atau berinvestasi disana. Tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Lalu suatu ketika Bosku mulai sering mengomel. Entah benci pada siapa, atau karena istrinya yang tak suka lagi melayaninya. Tak pernah jelas apa alasannya, pokoknya dia senantiasa mengomel setiap hari. Ada saja yang jadi bahan omelannya, dan ada saja yang jadi korban. Aku belum masuk daftar korbannya, mungkin karena aku terlalu sering senyum. Jadi dia masih cukup segan padaku, begitu kupikir mula-mula.

Tapi omelan demi omelan Bosku akhirnya mulai menyita perhatianku. Aku jadi jarang memperhatikan Jakarta. Tapi aku sudah mulai terbiasa pula dengan tabiatnya, sehingga ia sudah tak asing lagi bagiku. Meskipun aku mulai sibuk melayani omelan-omelan Bosku, sekali-kali aku masih bisa menyempatkan bertemu Jakarta, dengan frekuensi yang sudah tak setingi dulu tentu saja.

Enam bulan sudah kukenal Jakarta, aku mulai bangga padanya. Bangga pada kedewasaannya, pada serba cepatnya, pada serba macetnya, dan serba-serbi lainnya. Banyak hal baik yang kulihat darinya. Terutama pada basa basinya, yang sungguh asin tapi tetap dimakan juga. Aku heran kadang-kadang, tapi suatu ketika, aku pula yang harus merasakannya.

Itu satu setengah tahun kemudian, ketika asap kendaraan mulai membuat batuk Jakarta. Kenalpot-kenalpot kendaraan tak bebas uji kandungan emisi mulai berseliweran di jalan raya. Tak peduli asap hitamnya mengepul, membuat hitam wajah orang-orang di belakangnya. Padahal aku sudah pernah usulkan pada Jakarta, agar lebih ketat menggunakan cadar penutup muka, tapi Ia tak mau percaya. Kami bahkan bersitegang di pinggir jalan, di dekat bundaran Plaza Indonesia. Tapi Jakarta tetap saja keras kepala, baginya tak ada yang lebih penting dari pada urusan dapurnya. Rumah tangga bagi Jakarta adalah segala-galanya, bahkan saking cintanya, dia rela korupsi apa saja, demi mengepul asap dapur istrinya.

Hmmm... akupun jadi ikut kena getahnya.

Bosku semakin parah darah tingginya. Kantor semakin tak jelas mood-nya. Lantaran tensi yang meninggi, Bos punya dalih untuk mencari istri kedua. Persoalan sah atau tidak, itu tak perlu ditanya. Kedewasaan Jakarta seperti sudah memahami semuanya, jadi tinggal mengedipkan mata, maka bereslah semua.

Aku melongo tak percaya.

PAK BOS
"Hei! Kamu jangan bengong saja!"

AKU Terkejut setengah mati. Bosku ternyata sudah berdiri di belakangku, dengan dagu terangkat dan alis bertaut. Ternyata ia sudah berdiri lama disitu, aku saja yang tak menyadarinya. Entah sudah berapa lama tadi aku melamunkan Jakarta, sampai-sampai aku lupa pada dokumen yang sudah dibutuhkannya.

AKU
"Ya Pak, saya Pak... Saya tidak bengong kok Pak. Saya cuma sedang berpikir...," ujarku mencoba berbasa basi. Dalam posisi seperti ini biasanya aku selalu tak ingin kelihatan ketakutan, dengan cara menjawab pertanyaannya sesigap mungkin.

PAK BOS
"Berpikir apa? Saya tidak bayar kamu untuk berpikir! Tapi untuk bekerja."
Ha?! Aku semakin melongo saja. Tapi buru-buru kukatupkan bibirku sebelum Bos mengulangi kata-katanya yang pertama.

PAK BOS
"Lha, kamu pikir perusahaan ini acara cerdas cermat apa ? Mana dokumen yang saya minta?"

Buru-buru aku menyodorkan berkas dokumen yang ia minta. Bosku pergi begitu menerima dokumen yang ia minta. Aku tahu beberapa pasang mata mengintip dari balik meja kerjanya memperhatikan kami. Begitu si Bos beranjak pergi meninggalkanku, merekapun bergegas kembali berlagak serius bekerja di depan mejanya masing-masing. (bersambung)
Enhanced by Zemanta
Posting Komentar