2 Apr 2004

Aku Tetap Golput

Masih saja Golput jadi perdebatan.

Ada yang bilang pengecut, ada yang bilang tak bertanggung jawab, bahkan Gus Dur bilang di Kompas, golput tidak ikut memilih, tapi apapun hasilnya tetap aja ikut menikmati.

Hmmm…

Sulit juga menjelaskan kenapa aku sendiri memilih untuk tidak menggunakan hak pilihku.
Pertama, aku tak pernah percaya lagi pada mereka yang menjadi daftar calon legislatif, apalagi para calon presiden.

Pertama, kebohongan dan kebusukan mereka sudah terlalu parah, tak termaafkan, karena kadang-kadang mereka melakukannya tanpa rasa risih sedikitpun. Risih pada masyarakat, risih pada aturan-aturan, ataupun risih pada hati nuraninya sendiri! Andaikan mereka masih punya. Maka sebelum ada jaminan yang jelas terhadap komitmen mereka untuk bertindak atas nama dan demi rakyatnya, aku takkan memilih mereka.

Kedua, aku tak mau menjadi keledai, yang selalu terperosok di lubang yang sama. Sudah cukup rasanya sakit yang aku rasakan, ketika mahasiswa ditembak dan dijadikan korban, dipukuli, diburu seperti bintang, sementara badut-badut yang mengaku reformis duduk diam-diam di kursi legislatif. Boro-boro merealisasikan agenda reformasi, menengok lagipun tidak. Kenapa? Aku tak mengerti.

Ketiga, Berbagai perubahan yang terjadi dalam mekanisme maupun perundang-undangan dalam pemilu, ternyata setali tiga uang. Setidaknya begitulah pendapatku. Tetap saja Partai memiliki kuasa yang melebihi mandat yang diberikan rakyat kepadanya. Alih-alih demokrasi permusyawaratan yang mengutamakan perwakilan, rakyat diinjak-injak sedemikian rupa, dipake sebagai batu pijakan politikus-politikus oportunis. Bukan rahasia lagi kalau lembaga legislatif maupun eksekutif adalah sarana yang paling ampuh untuk mencapai kekayaan luar biasa.

Kedengarannya pesimis memang. Tapi seharusnya lingkaran setan kebusukan pemerintahan ini diputuskan dengan melarang semua bekas kaki tangan Soeharto untuk ikut menjadi caleg atau calon presiden. Sudah jelas pelanggaran yang mereka lakukan semasa berkuasa, masih belum cukupkah? Hanya ada satu semboyan, BUBARKAN GOLKAR dan semua underbow-nya! Buat Undang-undang baru oleh mereka yang tak pernah punya keterlibatan dengan pemerintahan Orde Baru.

Lakukan Pemilu yang jujur dan bersih, tak ternoda oleh tangan-tangan lama yang belepotan darah.

Beberapa hari menjelang Pemilu, April, 04
Posting Komentar