29 Nov 2003

Nikmati Apa Adanya…

Meski setengah hati, memaki, dan menggerutu, tapi aku masih juga menyaksikan acara televisi yang sungguh memuakkan. Entah kenapa, aku sendiri tak begitu mengerti. Kenapa rasa muakku begitu mengemuka, kenapa tak bisa sedikitpun aku nikmati hiburan yang menawarkan sejuta senyum dan tawa di situ. Padahal aku tak ingin membenci televisi. Bukan pula karena kemiskinanku yang tak mengerti idiom-idiom yang melambangkan kemakmuran disana. Tapi mungkin juga…

Akh, mungkin karena aku saja yang tak begitu pandai mengikuti perkembangan zaman. Kenyataannya, dari balita sampai tua renta, mereka begitu gandrung, memaku diri di depan tayangan-tayangan 25 gambar per detik itu. Bukan sulap, bukan pula sihir, apalagi hipnotis. Televisi jauh lebih sakti daripada kutbah di mimbar mesjid-mesjid, maupun mimbar-mimbar di gereja. Akhirnya, bahkan mereka yang di mesjid dan di gereja, berbondong-bondong memindahkan mimbar mereka ke layar televisi. Karena disanalah umatnya kini berada. Dalam ruang baru, yang menawarkan sejuta pilihan, bahagia atau merana, takwa maupun laknat neraka.

SEJAK subuh mengkumandangkan adzannya, sampai maghrib pertanda tenggelamnya matahari, dengan setia televisi menemani pemirsanya. Ketika sedih berduka, cari saja tayangan yang mempertontonkan airmata. Ketika senang bersuka, tertawalah bersama lawakan-lawakan yang sungguh tak mengindahkan derajat manusia - toh bagi mereka ini hanya sekedar lawakan, penghilang ketegangan, tak serius, jadi jangan terlalu dianggap serius pula.

Aku pernah ikut terpaku pada satu acara. Sungguh, cerita ini sangat mulia. Tentang seorang anak muda, yang mencintai putri sang tetua agama. Beribu macam alasan digelar, menjegal niat si anak muda yang ternyata tak tahu aturan agama. Mengajipun tak bisa, apalagi shalat lima waktu. Maka disusunlah cara, agar sang anak muda insyaf dan baik budinya. Tak kurang dari satu bulan, sesuai alur waktu cerita, si anak muda sudah pandai shalat dan mengaji. Bahkan dimaknainya kata ikhlas menurut kajian-kajian ulama. Kagumlah sang tetua, mengalir air mata harunya.

Kok Tuhan 'dihinakan' segitu rupa, karena ibadahnya ternyata hanya jalan menuju nafsu syahwat manusia… Gumanku terpana…

Aku tersedak kudapan… Kusambar segelas air putih di sampingku, segera kutenggak isinya…

Lalu ada lagi satu cerita, kali ini tentang orang kaya di seberang sana, di lain benua. Akh, kulewatkan saja… Tak mengerti aku dengan jalan hidup mereka…

Nah.. ini saja, ada tayangan lain yang sungguh menakjubkan! Iklan mereka menyebutnya… Hmmm…

JARIKU masih bermain di atas papan tombol remote televisi. Tak tahu harus memilih yang mana, kuputuskan untuk memencet tombol POWER, mematikan televisi di depanku. Sekonyong-konyong ruang itu hampa, gelap, tinggal sebuah kotak besar dengan layar dan papan tombol. Makian yang terlontar, hilang seketika. Doa-doa bersimbah airmata, lenyap dalam kedipan mata.


(Bdg, Nov 03)
Posting Komentar