30 Sep 2014

Memilih mundur menghadapi perubahan

Gambar ini (ternyata) milik Erry Nugraha
Sebelum genap setahun blog ini tak berisi konten baru, curhat dulu ah...

ALKISAH ada sebuah desa yang terletak di hutan. Segenap warga desa harus berhadapan dengan serangan binatang buas yang setiap saat bisa datang. Korban berjatuhan.

Ada yang menyebutnya tumbal, dan menyerah pada nasib. Secara sukarela membuat ritual mengorbankan warga untuk dimangsa hewan-hewan buas tersebut.

Namun ada pula yang tak berhenti memikirkan cara untuk keluar dari situasi yang tak menguntungkan ini. Mudah ditebak, mereka ini sebagian besar adalah orang-orang yang keluarganya pernah menjadi korban, atau orang-orang yang mulai khawatir kalau dirinya atau kerabatnya yang jadi korban.

Karena bukan golongan arus utama, mereka harus sembunyi-sembunyi mendiskusikan gagasannya. Kalau tidak, salah-salah mereka dijadikan tumbal berikutnya dalam ritual. Singkat cerita, meski bergerak secara gerilya, pelan tapi pasti gerakan ini berhasil menggaet banyak massa.

Hingga suatu saat, warga desa sadar bahwa ritual yang mereka jalankan justru membuat hewan-hewan buas itu terus datang dan memangsa sebagian dari mereka. Warga bisa melihat, bahwa selama ini mereka justru memberi pemangsa itu sesuatu untuk dimangsa. Maka sepakatlah mereka untuk menghentikan lingkaran setan tersebut.

Diputuskanlah untuk melakukakan sebuah perubahan besar. Diputuskan untuk bedol desa, ke tempat yang lebih tinggi dengan sistem pengaman yang lebih baik. Menara-menara pengawas dibuat lebih banyak, sehingga para pemangsa mulai kesulitan untuk beroperasi. Ritual memberi tumbal dihapuskan, dan para pendukung gagasan ini dideligitimasi dari jajaran elit desa.

Tapi semua paham risikonya. Mereka berada di tempat baru, dengan lingkungan dan suasana baru. Ini pasti butuh waktu untuk beradaptasi. Masyarakat yang dulu tak berani keluar rumah saat malam, kini bebas berkumpul di mana saja tanpa khawatir dijemput dan dijadikan tumbal. Warga yang belum bisa menghilangkan kebiasaan memberi sajen pada pemangsa, ditangkap dan dijebloskan ke penjara.

Di luar dugaan, tak sedikit yang merasa perubahan ini merugikan mereka. Misalnya jin penunggu pohon keramat desa, yang harus me-rebranding dirinya menjadi jin baru lantaran ritual tak lagi dilakukan. Mereka yang biasanya kebagian sesajen, kini harus rutin ngamen mencari nafkah sendiri dalam kelompok-kelompok kecil.

Setelah bertahun-tahun, para pemangsa memang tak datang lagi. Namun warga desa berhadapan dengan situasi baru. Golongan jin dan kawan-kawannya mulai bertingkah. Mereka menyebarkan propaganda bahwa hewan-hewan buas pemangsa warga bukanlah musuh, melainkan pelindung warga. Mereka menuduh, perubahan yang diembuskan dulu adalah intervensi asing.

Para jin inipun merancang strategi agar bisa kembali ke masa lalu. Mereka lumayan berhasil menghasut sebagian warga untuk kembali di masa ritual-ritual itu masih berlangsung. Berbagai masalah baru yang muncul pasca bedol desa, disebut-sebut sebagai dampak dari keputusan untuk pindah yang dinilai kebablasan.

Selama di tempat baru, desa itu memang bukan bebas dari masalah. Tinggal di tempat yang lebih tinggi, anginnya lebih kencang. Warga jadi banyak yang masuk angin, jadi sering kentut, sehingga merusak harmoni di desa itu. Bau kentut mewabah di mana-mana.

Pertanyaan besar sekarang menghantui desa tersebut. Apakah mereka harus kembali saja ke masa para pemangsa berkuasa atas kebebasan mereka? Atau mencari jalan untuk mengendalikan wabah kentut? Medan pertempuran kini terbuka, di antara yang ingin tetap bebas meski harus menghadapi bau kentut, dengan pihak yang ingin kembali memuja pemangsa demi terbebas dari bau kentut.

Pilihan yang sebenarnya sederhana tapi pelik. Apakah mereka bisa melihat perubahan sebagai tantangan yang harus ditaklukkan? Atau ingin mundur ke belakang karena tak mau berubah sebagai pengecut yang ingin menikmati kenyamanan tanpa mau berkorban?

-----------------------
say it, you'll have it.

Saya di Google+