13 Okt 2013

Membangun Jejaring Sosial dengan Media Sosial

CC BY 2.0/Hans PƵldoja/2010

Anda boleh bingung, atau merasa tak nyaman dengan judul tulisan ini. Itu sah. Karenanya Anda perlu melanjutkan membaca apa yang ingin saya ungkapkan dalam tulisan ini, mengenai judul di atas.

Pertama, judul itu memang sedikit ingin mengomentari banyak pemahaman orang tentang "Social Network" vs "Social Media". Apakah keduanya makhluk yang sama? Ataukah berbeda? Kecenderungan yang saya lihat adalah kedua istilah dipertukarkan seolah benar-benar sama. Tapi tunggu, tulisan ini tak mau mengajak Anda berdebat soal definisi semata.

Kedua, ingin sedikit membuka cerita lama tentang jejaring sosial yang sebenarnya sudah ada, jauh sebelum internet itu sendiri lahir. Sekedar untuk menyatakan bahwa istilah itu bukan istilah baru. Jejaring Sosial ini terjemahan bebas untuk "Social Network".

Mari kita mulai dengan apa itu Media Sosial

Social Media, atau saya lebih suka menggunakan Media Sosial sebagai istilah lokalnya, digadang juga sebagai Media 2.0. Kenapa pakai kode 2.0? Karena ada kode 1.0. Nah, media yang mana yang disebut Media 1.0? Dari penelusuran saya, Media 1.0 adalah media tradisional dalam istilah barat. Media seperti koran, televisi, radio, buat kalangan barat adalah media tradisional.

Mungkin kurang pas untuk telinga kita, karena kita punya yang "lebih tradisional". Akan ada yang menyebut Wayang Orang sebagai media tradisional, karena wayang digunakan sebagai "medium" untuk menyampaikan pesan. Cerita-cerita dalam wayang sering disusupi pesan, baik yang bersifat propaganda maupun yang filosofis.

Di era Media 1.0, informasi dikirimkan dari satu ke banyak. Media massa, berfungsi untuk menyebarkan informasi seluas-luasnya. Karena untuk kepentingan publik, informasinya tak boleh sembarangan. Karena itu semua informasi yang diterbitkan media massa sudah seharusnya melalui proses yang njelimet. Mulai dari verifikasi fakta, hingga timbang-menimbang soal seberapa penting informasi tersebut bagi publik. Hasil karyanya adalah hasil kolektif para awak redaksi.

Media sosial, melabrak aturan itu. Blogger atau narablog misalnya, adalah penulis yang mengerjakan tulisannya sendiri. Mulai dari mencari informasi, menulisnya, menyuntingnya, dan menerbitkannya. Untuk memilih mana konten yang perlu ditulis atau tidak, tergantung ketertarikan dan mood-nya si penulis.

Lalu siapa yang berperan sebagai filter dari konten itu? Publik. Publiklah yang menilai sendiri, apakah konten si narablog itu kredibel atau tidak. Entah tulisannya berupa opini, laporan dari lapangan, atau investigasi sekalipun seperti yang dibuat media massa tradisional, publik yang akan membuat penilaian. Mekanismenya lahir dari kecanggihan teknologi; ada rating, tanda suka atau tidak suka, hingga komentar terhadap tulisan itu.

Di era media sosial ini, semua orang bisa jadi sumber informasi bagi publik, karena menerbitkan informasi menurut versinya sendiri-sendiri. Orang tak lagi sekedar menjadi konsumen informasi, tetapi juga menjadi produsen informasi. Dari konsumen menjadi prosumen.

Bagaimana dengan Jejaring Sosial?

Jejaring sosial adalah hubungan antar orang, atau sesuatu yang menghubungkan individu dengan individu yang lain. Motifnya bisa karena kesamaan lokasi, hobby, sekolah, kuliah, haluan politik, selera seni, musik, film, dan sebagainya.

Kartun dari Odd Todd yang dianimasikan di situs Times bahkan menyebut jejaring sosial sudah lahir sejak adanya manusia, ketika mereka mulai berinteraksi satu sama lain. Menusia membangun jejaring karena ada kebutuhan untuk saling berkomunikasi, atau atas dasar kepentingan lainnya. Arisan bulanan, pada dasarnya sebuah jejaring sosial juga, meski sebelum adanya internet mensyaratkan anggotanya bertatap muka.

Alat untuk berkomunikasi punya peran besar dalam membantu membangun jejaring. Alternatif dari komunikasi tatap muka, adanya teknologi komunikasi seperti telepon, orang-orang bisa tetap keep in touch. Jejaring tetap terpelihara, sehingga lebih mudah melakukan mobilisasi. Misalnya untuk demonstrasi.

Sejak teknologi informasi dan komunikasi mengalami revolusi besar-besaran dengan hadirnya internet, jejaring sosial tumbuh subur. Jejaring itu lahir tak hanya karena ada pertemuan tatap muka, tetapi karena pernah "bertemu" di dunia maya. Ketika sebuah pertemuan melahirkan kesamaan, terbentuklan jejaring. Misalnya, jejaring orang-orang yang sama-sama mengagumi Miyabi, lalu berkumpul dalam sebuah forum internet, atau di sebuah buletin board.

***

Sampai di sini, perbedaan Jejaring Sosial dan Media Sosial semoga sudah cukup jelas. Mari kita teruskan pembahasan terkait judul di atas. Bagaimana memanfaatkan media sosial untuk membangun jejaring sosial?

Mudah saja, bukan? Media sosial, semisal layanan blog, digunakan narablog untuk menulis, apa saja yang ia suka. Sesama narablog di Bekasi misalnya, kemudian merasa perlu membuat sebuah jejaring sesama narablog Bekasi, atau bisa juga menyebut diri mereka Blogger Bekasi. Bagaimana mereka membangun komunikasinya? Bisa lewat SMS, atau yang lebih konvensional, milis.

Ini sekedar contoh, tetapi Anda bisa temukan banyak kumpulan narablog yang berjejaring karena lokasinya. Bahkan ada label Blogger ASEAN, jejaring narablog se Asia Tenggara. Dan tentu saja banyak juga para narablog lain yang berjejaring bukan semata karena lokasi, misalnya narablog kuliner, atau narablog yang suka bersepeda.

Dengan menulis blog tentang sepeda, seseorang bisa dikenal atau memasuki jejaring tentang topik yang relevan. Dengan memanfaatkan media sosial, semakin mudah jejaring terbentuk. Para penulis bertema serupa yang tadinya mungkin tak kenal satu sama lain, kini saling mengenal karena tulisan mereka saling bertaut. Ini sekadar contoh kecil, dari dunia blogging.

Lewat Twitter -- yang notabene adalah microblogging -- orang-orang bisa terkoneksi (baca: saling follow atau mention) karena saling suka dengan apa yang dikicaukan. Terbentuklah jejaring. Dari sekadar saling retweet, twitwar, lalu bisa dilanjutkan dengan kopdar dan akhirnya terbangunlah komunitas. Sebuah jejaring.

Facebook, awalnya adalah sebuah teknologi untuk berkomunikasi antar peserta dalam jejaring. Seperti yang digambarkan dalam film seputar sejarah lahirnya Facebook, awalnya situs ini dibuat untuk menampung orang-orang sekampus, satu sekolah, dan hubungan lain yang sudah terdefinisi sebelumnya. Judulnya saja "The Social Network" (2010). Fitur media sosial dalam jejaring ini, muncul belakangan dan dimanfaatkan untuk memperkaya komunikasi antar pengguna.

Jadi jelaslah sudah. Pada dasarnya Social Network itu berbeda dengan Social Media. Bahwa media sosial bisa menjadi salah satu fitur dalam jejaring sosial, tetapi media sosial juga bisa melahirkan jejaring sosial. Jejaring sosial adalah sebuah kata benda untuk jejaring yang memungkinkan anggotanya berinteraksi.

Tetapi jejaring sosial bukanlah alat, karena alat yang digunakan dalam berjejaring sosial adalah fitur untuk berkomunikasi antar peserta dalam jejaring. Maka akan lebih mudah dipahami jika kita menyebut atribut sebuah layanan jejaring sosial, misalnya apakah ia berupa situs di internet, atau aplikasi di peranti bergerak.

Teknologilah yang kemudian melarutkan kedua prinsip di atas dalam satu layanan, secara canggih dan paripurna.

-----------------------
say it, you'll have it. Saya di Google+